KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Narcissistic Personality Disorder (NPD) atau gangguan kepribadian narsistik merupakan kondisi kesehatan mental yang tidak bisa dinilai hanya dari perilaku seseorang yang merasa paling benar, menganggap dirinya lebih unggul, atau selalu ingin mendapatkan pengakuan dari orang lain.
Kondisi ini perlu dikenali secara tepat karena pola perilaku narsistik yang bermasalah dapat mengganggu hubungan sosial, menyulitkan seseorang menerima kritik, hingga membuatnya kesulitan mengakui kesalahan.
Dokter Spesialis Kejiwaan RSUD Karawang, dr. Gabriela Tantular, M.Biomed., Sp.Kj., menegaskan bahwa tidak semua orang yang menunjukkan perilaku narsistik mengalami NPD. Diagnosis harus dilakukan melalui pemeriksaan oleh tenaga profesional kesehatan mental.
“Untuk mendiagnosis itu tidak bisa sembarangan. Perlu pendapat pakar, baik psikolog maupun psikiater,” kata Gabriela, Selasa (27/10/2026).
Kenali Dampak Perilaku Narsistik
Menurut Gabriela, salah satu hal yang perlu diperhatikan adalah kesulitan seseorang menerima pandangan orang lain dan mengakui kesalahan. Jika pola tersebut terus terjadi, hubungan dengan keluarga, teman, maupun lingkungan kerja berpotensi terganggu.
Seseorang juga dapat terus membutuhkan pengakuan atau validasi dari orang lain, meskipun terlihat memiliki kepercayaan diri tinggi dan merasa dirinya lebih unggul dibandingkan orang di sekitarnya.
“Ketika seseorang sulit menerima orang lain dan tidak mau mengakui kesalahan, dampaknya bisa dirasakan oleh orang-orang di sekitarnya. Hubungan sosialnya juga bisa terganggu,” ujarnya.
Meski demikian, perilaku tersebut tidak serta-merta menunjukkan seseorang mengalami NPD. Penilaian perlu mempertimbangkan pola perilaku secara menyeluruh, termasuk dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari.
Pola Asuh Bisa Menjadi Salah Satu Faktor
Gabriela menjelaskan, perkembangan karakter seseorang dapat dipengaruhi berbagai faktor, termasuk pengalaman hidup dan pola asuh sejak kecil.
Salah satu pola asuh yang perlu diperhatikan adalah kebiasaan membela anak dalam setiap situasi, termasuk ketika anak melakukan kesalahan. Jika terus berlangsung, anak berisiko tidak terbiasa memahami konsekuensi perbuatannya dan belajar bertanggung jawab.
“Apapun kesalahan si anak, itu dibela. Jadi, dia tidak belajar bahwa dirinya pernah salah dan ketika melakukan kesalahan harus bagaimana,” jelasnya.
Karena itu, orang tua perlu membiasakan anak memahami konsekuensi perilakunya, berani mengakui kesalahan, serta belajar menghargai perasaan dan sudut pandang orang lain.
Namun, pola asuh bukan satu-satunya penyebab NPD. Gangguan kepribadian merupakan kondisi kompleks yang dapat melibatkan berbagai faktor.
Bagaimana Cara Menangani NPD?
Gabriela menegaskan, kondisi yang berkaitan dengan perilaku narsistik bermasalah dapat ditangani. Namun, prosesnya membutuhkan waktu, konsistensi, dan keterlibatan tenaga profesional.
“Iya, bisa sembuh, tetapi memang butuh waktu dan perjuangan,” katanya.
Penanganan dapat melibatkan psikoterapi yang disesuaikan dengan kebutuhan individu. Melalui proses tersebut, seseorang dapat dibantu untuk mengenali pola pikir dan perilakunya, memahami dampaknya terhadap orang lain, serta mengembangkan cara berinteraksi yang lebih sehat.
Jika perilaku atau konflik dalam hubungan sosial mulai mengganggu kehidupan sehari-hari, konsultasi dengan psikolog atau psikiater dapat menjadi langkah awal untuk memperoleh penilaian dan bantuan yang tepat.
Gabriela juga mengingatkan masyarakat agar tidak terburu-buru memberikan label NPD kepada orang lain, terutama hanya berdasarkan interaksi singkat atau perilaku yang terlihat di media sosial.
Mengenali NPD bukan berarti mencari kesalahan orang lain, melainkan memahami bahwa gangguan kepribadian memerlukan penilaian profesional.
Dengan meningkatkan kesadaran diri, belajar menerima masukan, dan mencari bantuan yang sesuai, seseorang dapat menjalani proses perbaikan perilaku dan hubungan sosial secara lebih sehat.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
