Namun, Bian memilih belajar bahasa Indonesia, sementara teman-temannya juga belajar bahasa Inggris. Mereka kemudian saling membantu dalam proses belajar bahasa.
“Pertama kali aku kelas, bahasanya bahasa Inggris. Teman-teman saya juga bisa bahasa Inggris. Tapi mereka katanya mau belajar bahasa Inggris, aku mau belajar bahasa Indonesia,” katanya.
Kesulitan semakin terasa ketika beberapa dosen menyampaikan materi menggunakan bahasa Indonesia.
“Bahasanya sulit. Pertama kali sulit. Dan ada beberapa dosen yang pakai bahasa Indonesia, tidak pakai bahasa Inggris. Atau kalau pakai, materi-materi ada dalam bahasa Indonesia. Jadi ya, itu sulit,” ujarnya.
Meski demikian, empat tahun membuat kemampuan bahasa Indonesianya jauh berkembang. Kini, bahasa yang dulu menjadi hambatan justru tidak lagi terasa sulit baginya.
“Tapi kalau sekarang, gak merasa sulit,” ucapnya.
Tinggal Bersama Teman Mancanegara
Selama menempuh pendidikan di Unsika, Bian juga menjalani kehidupan bersama teman-teman dari berbagai negara. Mereka tinggal bersama di sebuah rumah kontrakan sederhana yang hanya terdiri dari tiga petak.
Kehidupan bersama tersebut menjadi bagian dari pengalaman Bian selama berada di Indonesia. Selain menjalani aktivitas perkuliahan, ia juga belajar beradaptasi dengan karakter dan kebiasaan orang-orang dari latar belakang berbeda.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
