Obrolan kembali berubah serius ketika saya menyinggung bagaimana reaksi setelah pemberitaan mereka viral.
Beberapa warga mengaku sempat mendapat tekanan karena berani menyampaikan keluhan kepada media. Mereka enggan menjelaskan lebih jauh siapa pihak yang dimaksud.
Namun itu sedikit membuktikan bahwa ada yang terganggu dan minim empati kepada warga yang terdampak langsung kutu beras itu.
Saat berbincang dengan kami pun mereka masih menahan diri untuk tidak menyampaikan semua keluhan mereka. Hal itu sangat terasa karena beberapa percakapan kami terpotong dengan kalimat "udah, takut ah, nanti viral lagi,"
Menjelang kami berpamitan, seorang warga menyampaikan harapan yang terdengar sangat sederhana.
“Kami cuma ingin gudangnya dibersihkan. Kalau memang ada beras lama yang jadi penyebabnya, ya segera ditangani. Biar kami bisa tinggal di sini dengan tenang,” ujarnya.
Kalimat itu terus teringat sepanjang perjalanan pulang.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
