KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Krisis identitas di kalangan remaja di tengah perkembangan era digital dinilai semakin mengkhawatirkan. Kurangnya dukungan dan pengawasan orang tua disebut menjadi salah satu faktor yang membuat anak lebih mudah terpengaruh lingkungan pergaulan.
Ketua Forum Anak Karawang, Revalina Izzatunisa, mengatakan kondisi tersebut membuat sebagian remaja kesulitan membangun prinsip dan kepercayaan diri. Mereka juga rentan mengikuti perilaku lingkungan hanya demi mendapatkan pengakuan.
Menurut Revalina, fenomena fear of missing out (FOMO) menjadi salah satu persoalan yang banyak dialami remaja saat ini. Rasa takut tertinggal dari lingkungan pertemanan membuat anak cenderung mengikuti ajakan teman tanpa mempertimbangkan konsekuensinya.
“Anak-anak yang mengalami FOMO biasanya belum memiliki prinsip hidup yang kuat. Mereka membutuhkan validasi dari orang lain sehingga kurang percaya diri terhadap kemampuan yang dimiliki,” kata Revalina, Kamis (3/9/2026).
Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan pentingnya pendampingan terhadap anak, bukan hanya dari orang tua, tetapi juga sekolah, pemerintah dan lingkungan sekitar.
“Anak membutuhkan lingkungan yang bisa mendukung mereka untuk mengenali dirinya sendiri. Jangan sampai mereka mencari pengakuan di luar karena merasa tidak mendapatkan perhatian di rumah,” ujarnya.
Revalina menyebut keluarga menjadi lingkungan pertama yang berperan dalam pembentukan karakter anak. Komunikasi yang minim maupun hubungan orang tua yang tidak harmonis dinilai dapat memengaruhi kondisi psikologis anak.
“Ketika anak tidak mendapatkan kehangatan dari keluarga, mereka cenderung mencari tempat lain untuk diterima. Di situlah anak menjadi lebih mudah dipengaruhi oleh lingkungan pertemanan yang juga masih labil,” katanya.
Menurutnya, krisis identitas juga dapat berkaitan dengan sejumlah persoalan yang muncul di kalangan remaja, seperti tawuran, perundungan atau bullying, hingga perilaku ikut-ikutan demi mendapatkan pengakuan dari kelompok.
“Kadang anak mengikuti ajakan temannya karena takut tidak diterima dalam kelompok. Akhirnya mereka ikut terlibat dalam perilaku negatif seperti tawuran atau bullying,” ungkap Revalina.
Karena itu, ia mengingatkan remaja agar tidak menjadikan pengakuan dari orang lain sebagai ukuran nilai diri. Remaja didorong untuk membangun prinsip hidup, mengenali potensi diri dan mengembangkan minat serta bakat yang dimiliki.
“Kenali diri sendiri dan jangan terus membandingkan diri dengan orang lain. Setiap anak punya kemampuan yang berbeda dan itu harus dikembangkan,” tuturnya.
Selain keluarga, sekolah dinilai memiliki peran penting dalam membantu remaja menemukan jati diri. Sekolah dapat menyediakan ruang melalui kegiatan positif yang mendorong anak mengembangkan kemampuan, berinteraksi secara sehat dan meningkatkan rasa percaya diri.
Dengan pendampingan yang konsisten dari keluarga, sekolah dan lingkungan, Revalina berharap remaja tidak mudah terpengaruh tekanan sosial maupun arus informasi di media sosial yang dapat mendorong mereka mengambil keputusan tanpa mempertimbangkan dampaknya.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
