Saya menyapa mereka. Menanyakan kabar. Tak butuh waktu lama, suasana kembali hangat. Kami dipersilakan duduk. Beberapa gelas air mineral dibuka, sebatang rokok dinyalakan, dan obrolan menjelang malam pun mengalir tanpa terasa.
Saya memang sengaja datang menjelang magrib. Menurut warga, itulah waktu ketika “tamu-tamu kecil” itu mulai keluar. Dan benar saja. Saat cahaya matahari mulai meredup, beberapa serangga kecil tampak beterbangan di sekitar halaman rumah.
Tidak sebanyak ketika pertama kali kami datang, tetapi cukup untuk membuktikan bahwa persoalan itu belum benar-benar selesai.
“Masih ada, Mas. Sampai sekarang belum hilang,” kata seorang warga sambil memperlihatkan plastik bening kecil berisi mungkin hampir ratusan kutu beras yang berhasil ia kumpulkan.
Plastik kecil itu seolah menjadi bukti bahwa keluhan mereka bukan sekadar cerita.
Dari obrolan itu, warga menceritakan bahwa gangguan tersebut sudah mereka alami sekitar enam bulan terakhir. Mereka menduga kutu berasal dari stok beras yang telah lama tersimpan di gudang.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
