Riasan pengantin perempuan menggunakan sanggul bertingkat menyerupai stupa sebagai simbol kesucian dan keseimbangan hidup. Di bagian kepala dipasang kembang goyang berbentuk bunga teratai yang melambangkan kemurnian, serta siangko cadar dari manik-manik emas sebagai tanda kehormatan.
“Setiap ornamen itu bukan sekadar hiasan. Semua adalah doa yang dikenakan pengantin,” jelasnya.
Ia juga menyebutkan, berat hiasan kepala berbahan perak dari koin belanda asli bisa mencapai lebih dari satu kilogram.
“Memang tidak ringan. Itu melambangkan tanggung jawab besar dalam membina rumah tangga. Jadi bukan hanya indah, tapi ada pesan moralnya,” tambah Carman.
Kembang Ageung juga menunjukkan akulturasi budaya Islam, Hindu, Buddha, hingga Tiongkok. Pengaruh tersebut terlihat dari aksesoris burung hong, busana berkerah Shanghai, hingga penggunaan daun sirih di dahi sebagai simbol penolak bala.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
