“Karawang ini wilayah pesisir, sejak dulu jadi tempat pertemuan banyak budaya. Jadi wajar kalau Kembang Ageung punya unsur yang beragam, tapi tetap menyatu dan punya ciri khas sendiri,” paparnya.
Setelah dirias, pengantin diarak keliling kampung menaiki kuda berhias dengan iringan seni ajeng dan tarian penyambutan Seni Ajeng.
Tradisi ini menjadi momen sakral yang menyatukan masyarakat sekaligus mengumumkan pernikahan kepada warga.
Sejak sekitar tahun 1970-an, pengantin juga mulai menggunakan kacamata hitam saat arak-arakan, yang kemudian menjadi ciri khas unik tradisi tersebut.
“Dulu kacamata hitam dipakai agar pengantin tidak silau saat diarak siang hari. Lama-lama malah jadi gaya khas yang membedakan Kembang Ageung dengan rias pengantin daerah lain,” ujarnya sambil tersenyum.
Sebagai pewaris tradisi, Carman berharap Kembang Ageung tetap dikenal generasi muda dan tidak hilang tergerus zaman.
“Saya ingin budaya ini tetap hidup. Ini bukan hanya riasan, tapi identitas dan kebanggaan Karawang. Kalau bukan kita yang menjaga, siapa lagi?,” tuturnya.
Kini, masyarakat umum diperbolehkan menggunakan Kembang Ageung dengan izin keluarga pelestari, sebagai upaya menjaga keaslian sekaligus memastikan warisan budaya tersebut terus lestari dari generasi ke generasi.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
