KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Tata rias pengantin Kembang Ageung, salah satu warisan budaya asli Kabupaten Karawang, masih bertahan ditengah tren rias pengantin modern. Rias pengantin yang telah ada sejak sekitar tahun 1870 ini tidak hanya menampilkan keindahan busana, tetapi juga sarat nilai spiritual, filosofi, sejarah, akulturasi budaya serta penghormatan kepada leluhur.
Generasi kelima keluarga pelestari, Carman Yasa Adi Kusuma (59) mengungkapkan, Kembang Ageung telah diwariskan sejak sekitar tahun 1870 dan awalnya hanya digunakan oleh garis keturunan keluarga pelestari. Seiring waktu, masyarakat umum mulai mengenalnya sebagai identitas budaya pengantin Karawang tempo dulu.
“Dulu ini khusus keturunan. Kalau ada keluarga menikah wajib memakai Kembang Ageung sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur,” ujar Carman saat menampilkan rias pengantin Kembang Ageung di Karawang Wedding Hub 2026 Brits Hotel Karawang, Minggu (1/3/2026).
Ritual Sakral dan Sesajen Wajib
Ia menjelaskan, sebelum proses merias dilakukan, keluarga pengantin wajib menyiapkan sesajen lengkap sebagai bagian dari ritual adat. Sesajen tersebut melambangkan doa keselamatan, keseimbangan hidup, serta permohonan restu leluhur.
Adapun sesajen yang harus disiapkan meliputi, telur ayam mentah 1 butir, kelapa muda 1 buah, pisang ambon 1 sisir, daging sapi mentah 2 potong kecil, ikan gabus mentah segar 1 ekor, teh pahit dan teh manis masing-masing 1 gelas, kopi pahit dan kopi manis masing-masing 1 gelas, kembang tujuh rupa, lisong, kemenyan serta rokok Djinggo, Djarum Coklat dan Gudang Garam Merah (Garmer) masing-masing 2 batang.
“Kalau Kembang Ageung mau dipakai, sesajen itu wajib ada. Itu sudah pakem dari dulu dan tidak boleh dihilangkan, kalau tidak pengantin yang menggunakan maupun tukang rias rata-rata tidak akan kuat,” katanya.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
