Menurutnya, kemenyan yang dibakar saat prosesi merias dipercaya membawa doa-doa baik agar lebih cepat sampai kepada Tuhan sekaligus menjadi simbol penyucian ruang dan jiwa pengantin.
Carman menambahkan, sebelum pengantin dirias, biasanya keluarga juga memanjatkan doa bersama di hadapan sesajen tersebut.
“Ini bukan menyembah, tapi bentuk penghormatan kepada leluhur dan memohon restu agar rumah tangga yang dibangun diberi keselamatan, keberkahan, dan dijauhkan dari mara bahaya,” jelasnya.
Ia juga menerangkan bahwa setiap unsur sesajen memiliki makna. Telur melambangkan awal kehidupan, kelapa muda simbol kesucian niat, pisang sebagai harapan keberlanjutan keturunan, sementara kembang tujuh rupa melambangkan keharuman nama keluarga.
“Semua ada filosofinya. Tidak ada yang dipasang tanpa makna,” tegasnya.
Carman menjelaskan, Kembang Ageung bukan hanya tata rias dan busana, tetapi perpaduan estetika dan spiritualitas yang sarat makna.
Warna merah pada busana melambangkan keberanian dan kebahagiaan, warna kuning bermakna kemuliaan dan cahaya kehidupan, sedangkan hijau atau tosca menjadi simbol harapan serta kesejahteraan. Sementara penggunaan beludru hitam berhias koin kepeng melambangkan kemakmuran sekaligus nilai tradisi yang dijaga turun-temurun.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
