Di Tengah Keterbatasan Infrastruktur, Panen Padi di Rawamerta Karawang Tembus 7 Ton per Hektare
KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Hasil panen padi di Desa Sukamerta, Kecamatan Rawamerta, Kabupaten Karawang, mulai menunjukkan hasil menggembirakan. Produktivitas diperkirakan mencapai 7 ton per hektare dengan harga gabah kering panen (GKP) mencapai Rp8.300 per kilogram.
Namun, di balik potensi hasil panen dan tingginya harga gabah tersebut, petani masih menghadapi sejumlah persoalan. Mulai dari pendangkalan saluran irigasi hingga keterbatasan alat mesin pertanian (alsintan) yang menghambat aktivitas pengolahan lahan.
Dua kelompok tani (Poktan), yakni Harapan Mandiri dan Tri Makmur, mulai melaksanakan panen pada November 2026. Keduanya memiliki total luas baku sawah sekitar 65 hektare.
Kepala UPTD Pengelolaan Pertanian, Aan Priyanto mengatakan, pada tahap awal panen November ini, lahan yang sudah memasuki masa panen mencapai sekitar 3 hektare.
“Dari total luas baku sawah sekitar 65 hektare, saat ini yang mulai dipanen baru sekitar 3 hektare,” ujar Aan, Rabu (4/11/2026).
Dari luasan tersebut, produksi diperkirakan mencapai 21 ton GKP. Jika seluruh gabah terjual dengan harga Rp8.300 per kilogram, nilai transaksi panen diperkirakan mencapai Rp174,3 juta.
Meski demikian, persoalan infrastruktur pertanian masih menjadi keluhan. Salah satunya pendangkalan saluran irigasi tersier yang menghambat distribusi air menuju area persawahan.
Kondisi tersebut semakin menyulitkan petani ketika cuaca tidak menentu dan kebutuhan air untuk tanaman meningkat. Karena itu, normalisasi saluran irigasi dinilai mendesak agar pasokan air tetap terjaga.
“Pendangkalan saluran irigasi menjadi salah satu kendala petani. Normalisasi diperlukan agar pasokan air ke sawah bisa berjalan lancar,” jelasnya.
Tak hanya persoalan pengairan, petani juga menghadapi keterbatasan alsintan. Sejumlah peralatan pengolahan tanah, seperti traktor roda dua dan rotavator milik kelompok tani, mengalami kerusakan berat sehingga tidak dapat digunakan secara optimal.
Ketersediaan pompa air juga masih terbatas. Akibatnya, petani membutuhkan dukungan tambahan sarana pengairan untuk mengantisipasi kondisi cuaca yang tidak menentu.
“Petani masih membutuhkan dukungan alat pengolahan tanah, perbaikan alsintan yang rusak, serta tambahan pompa air untuk menunjang kegiatan pertanian,” katanya.
Aan berharap persoalan tersebut mendapat perhatian sehingga aktivitas pertanian di Desa Sukamerta dapat berjalan lebih optimal. Menurutnya, hasil panen yang baik perlu didukung infrastruktur pengairan dan ketersediaan sarana pertanian yang memadai.
“Harapannya, kendala-kendala tersebut bisa segera ditangani sehingga petani dapat mengoptimalkan lahan dan meningkatkan hasil panen,” pungkasnya.
Editor: Frizky Wibisono