Menilik Program Dokter Desa di Karawang, Berikan Layanan Gratis hingga Jemput Bola ke Warga
KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Program Dokter Desa di Desa Kutamaneuh, Kecamatan Tegalwaru, Kabupaten Karawang, menjadi salah satu upaya memperkuat pelayanan kesehatan di tingkat desa.
Sejak kembali berjalan pada April 2026, program hasil kerja sama Pemerintah Provinsi Jawa Barat dengan Universitas Padjadjaran (Unpad) tersebut telah memberikan pelayanan kesehatan gratis kepada masyarakat.
Pelayanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan, pengobatan, edukasi, hingga pencegahan penyakit. Kegiatan dipusatkan di Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Kutamaneuh yang berada di bawah wilayah kerja Puskesmas Loji.
Dokter yang bertugas, dr. Mochammad Rafli, mengatakan program tersebut berlangsung selama satu tahun. Fokus utamanya bukan hanya mengobati pasien, tetapi juga meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kesehatan dan pencegahan penyakit.
“Program Dokter Desa ini lebih mengutamakan peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan pencegahan berbagai penyakit. Namun, pelayanan pemeriksaan dan pengobatan tetap menjadi bagian dari kegiatan,” ujar Rafli, Kamis (29/10/2026).
Selama enam bulan pelaksanaan, kunjungan pasien ke Pustu tercatat berkisar 80 hingga 120 orang setiap bulan. Rata-rata terdapat lima sampai 10 pasien yang datang untuk mendapatkan pelayanan setiap harinya.
Jangkauan program juga diperluas melalui kegiatan posyandu. Bersama bidan desa, Rafli melakukan pendampingan di enam posyandu yang tersebar di Desa Kutamaneuh.
Kegiatan tersebut meliputi edukasi kesehatan, pemeriksaan tekanan darah, serta identifikasi keluhan yang dialami masyarakat. Dari hasil pelayanan selama enam bulan terakhir, terdapat lima keluhan atau penyakit yang paling sering ditemukan, yakni hipertensi, diabetes melitus, infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), demam, dan nyeri pinggang.
“Keluhan yang paling banyak ditemukan adalah darah tinggi, kemudian diabetes melitus, ISPA atau batuk-batuk, demam, dan nyeri pinggang. Di sini cukup banyak masyarakat lanjut usia yang sehari-harinya bekerja sebagai petani dan berkebun,” katanya.
Selain melayani pasien di Pustu dan posyandu, dokter desa juga melakukan kunjungan langsung ke rumah warga dalam kondisi tertentu, terutama bagi pasien yang membutuhkan pemeriksaan segera.
Apabila ditemukan kondisi yang memerlukan penanganan lebih lanjut, pasien akan dirujuk ke instalasi gawat darurat puskesmas atau rumah sakit.
Menurut Rafli, edukasi kesehatan menjadi bagian penting dari pelayanan, terutama untuk meningkatkan kesadaran pasien penyakit kronis agar menjalani pengobatan secara rutin.
“Alhamdulillah, masyarakat mulai lebih memahami pentingnya minum obat secara rutin, terutama bagi mereka yang memiliki penyakit darah tinggi,” ungkapnya.
Meski demikian, pelayanan masih menghadapi kendala dalam menjangkau warga yang tinggal jauh dari lokasi Pustu. Jarak tersebut terkadang menyulitkan pasien untuk kembali mengambil obat setelah menjalani pemeriksaan di posyandu.
Untuk mengatasi persoalan itu, Rafli berencana mengembangkan pelayanan menyerupai puskesmas keliling dengan membawa obat-obatan langsung ke lokasi posyandu. Langkah tersebut diharapkan memudahkan warga mengakses layanan kesehatan sekaligus memperluas pendataan penyakit di desa.
“Target saya saat ini meningkatkan kedatangan masyarakat ke Pustu dan posyandu terlebih dahulu. Dengan begitu, masyarakat mengetahui pelayanan yang tersedia dan penyakit yang banyak ditemukan di desa ini bisa terdata dengan baik,” tuturnya.
Dalam pelaksanaan program, Rafli juga mendapat dukungan dari Kepala Puskesmas Loji, dr. Bubun Bunyamin, M.Kes. Dukungan tersebut berupa penyediaan obat-obatan, alat kesehatan, tempat tinggal, hingga kendaraan untuk menunjang mobilitas pelayanan.
Melalui program yang direncanakan berlangsung selama satu tahun ini, pelayanan kesehatan di Desa Kutamaneuh diharapkan semakin mudah dijangkau. Tidak hanya memberikan pengobatan, keberadaan Dokter Desa juga diarahkan untuk membangun kesadaran masyarakat agar lebih peduli terhadap kesehatan dan melakukan pencegahan penyakit sejak dini.
Editor: Frizky Wibisono