Kisah Prof Sutirna : Dari Anak Tukang Becak Menjadi Guru Besar di FKIP UNSIKA
KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Fajar bahkan belum benar-benar menyingsing ketika seorang bocah kecil mulai menyusuri Pasar Baru Karawang. Di tangannya tergenggam bungkus-bungkus rokok yang akan dijajakan kepada para pedagang dan pembeli.
Usianya masih belia. Setelah selesai berjualan, ia bergegas mengenakan seragam sekolah, mengikuti pelajaran hingga siang, lalu kembali bekerja hingga malam demi satu tujuan sederhana: tetap bisa bersekolah.
Bocah itu adalah Prof. Dr. H. Sutirna, S.Pd., M.Pd.
Sabtu, 11 Juli 2026, tepat di usianya yang ke-62 tahun, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) itu mengenang perjalanan hidup yang terasa nyaris mustahil untuk dilalui. Dari anak seorang penarik becak yang tumbuh di bantaran Sungai Citarum, ia kini berdiri sebagai guru besar di kampus negeri kebanggaan masyarakat Karawang.
Lahir pada 11 Juli 1964, Sutirna dibesarkan dalam keluarga sederhana. Ayahnya, Tirin, bekerja sebagai buruh sekaligus penarik becak, sedangkan ibunya, Saanih, mengurus rumah tangga. Kehidupan serba kekurangan membuat masa kecilnya jauh dari kata nyaman.
Sejak kecil, ia diasuh oleh sang nenek, Ny. Tiung, bersama kakeknya, Kohir atau Yo Beng Liang. Dari tangan sang kakek yang dikenal sangat disiplin, bahkan keras ketika mengajarkan matematika, karakter pantang menyerah mulai terbentuk.
Pendidikan bukan sesuatu yang datang dengan mudah. Saat bersekolah di SD Bhinneka II Karawang, ia telah merasakan beratnya hidup. Memasuki SMP Kertabumi Karawang, kondisi ekonomi keluarga memaksanya bekerja demi membiayai sekolah.
Setiap subuh ia menjadi pedagang rokok asongan. Ketika teman-teman seusianya masih terlelap, Sutirna sudah memulai perjuangan. Setelah sekolah usai, malam harinya ia kembali mencari nafkah.
Editor : Frizky Wibisono