Heboh! Limbah Medis Bercampur Urugan Pembangunan Ruang Kelas SDN Pasirjengkol IV Karawang
KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Lingkungan SDN Pasirjengkol IV, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Karawang, dihebohkan dengan temuan dugaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) medis yang tercampur dalam material urugan tanah untuk pembangunan ruang kelas baru, Jumat (12/6/2026).
Temuan itu pertama kali diketahui setelah sejumlah siswa menemukan benda-benda yang diduga limbah medis di area tumpukan tanah urugan. Beberapa di antaranya berupa jarum suntik bekas, selang infus, dan perlengkapan medis lainnya.
Kepala SDN Pasirjengkol IV, Martika Aprianti, membenarkan adanya temuan limbah medis yang bercampur dengan material urugan tersebut. Namun, ia menegaskan pihak sekolah tidak mengetahui adanya limbah medis saat bantuan itu diterima.
“Awalnya memang buat urugan, terus malah ditemukan limbah medis. Kita betul-betul tidak tahu karena itu juga bantuan dari alumni,” ujar Martika saat ditemui di sekolah.
Menurut Martika, persoalan tersebut telah dilaporkan kepada pihak berwenang dan saat ini sudah ditangani.
“Saya datang langsung menghadap Pak Kapolsek Majalaya. Alhamdulillah sudah selesai, jadi sudah tidak ada masalah lagi,” katanya.
Meski demikian, Martika enggan menjelaskan lebih jauh mengenai kronologi kejadian dan meminta agar keterangan resmi disampaikan oleh pihak kepolisian.
“Nanti saja yang dijelaskan oleh Pak Kapolsek Majalaya atau yang lebih berwenang. Semuanya sudah dilaporkan ke sana, jadi biar nanti Polsek yang menyampaikan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Desa Pasirjengkol, Tati Maryati menyebut, urugan tersebut merupakan bantuan dari para alumni, yang kebetulan didistribusikan dirinya melalui pihak ketiga.
Ia menjelaskan, total terdapat enam dump truck material urugan yang dikirim ke lokasi. Namun, dua di antaranya diduga terkontaminasi limbah medis.
“Itu urugan tanah sumbangan dari alumni, totalnya enam dump truck. Ternyata ada dua dump truck yang terdapat dugaan limbah medis. Saya sudah berpesan agar tidak dicampur, tetapi mereka (pihak ketiga) mengambil material dari lokasi berbeda di Gintung,” kata Tati.
Tati menduga tercampurnya limbah medis dalam material urugan terjadi akibat kelalaian pihak penyedia material. Kendati demikian, ia memilih menyelesaikan persoalan tersebut secara kekeluargaan karena pihak pengangkut bersedia bertanggung jawab.
“Saya tidak menuntut pihak sopir karena dia warga saya dan mau bertanggung jawab membersihkan area itu. Yang penting sekarang lokasi sudah dibersihkan dan ada penyelesaian,” ujarnya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian maupun instansi terkait mengenai asal-usul limbah medis yang ditemukan dalam material urugan tersebut.
Editor : Frizky Wibisono