Karawang Punya Modal Besar Jadi Destinasi Wisata Industri Unggulan di Jabar, Ini Alasannya
KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Kabupaten Karawang dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan sektor wisata edukasi berbasis industri. Sebagai kawasan industri terbesar di Asia Tenggara, Karawang tidak hanya menjadi pusat manufaktur nasional, tetapi juga memiliki potensi menjadi destinasi wisata edukasi yang mampu mendongkrak perekonomian daerah.
Direktur Aldama Hospitality sekaligus Sekretaris Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kabupaten Karawang, Dinah Puji Astuti, mengatakan konsep Wisata Edukasi Karawang (WISKAR) dapat menjadi terobosan baru yang mengintegrasikan kunjungan industri atau factory visit dengan potensi wisata sejarah, budaya, religi, kuliner, hingga wisata alam yang dimiliki Karawang.
“Karawang memiliki keunggulan yang tidak dimiliki banyak daerah lain. Selain sebagai kawasan industri besar, kita juga punya destinasi sejarah seperti Rengasdengklok, Situs Jiwa Candi, Makam Syekh Quro, hingga potensi wisata alam dan kuliner. Semua itu bisa dikemas dalam satu paket wisata edukasi yang menarik,” ujar Dinah. Minggu,(7/6/2026).
Menurutnya, kebutuhan sekolah vokasi untuk mengenal dunia kerja secara langsung melalui kunjungan industri menjadi peluang yang sangat potensial. Terlebih, pemerintah pusat telah menerbitkan Peraturan Presiden Nomor 68 Tahun 2022 tentang Revitalisasi Pendidikan Vokasi dan Pelatihan Vokasi yang mendorong penguatan link and match antara dunia pendidikan dan industri.
Dinah menjelaskan, selama ini ribuan siswa SMK dari berbagai daerah rutin melakukan kunjungan industri ke sejumlah kawasan manufaktur. Jika dikelola secara terintegrasi, kunjungan tersebut dapat diperpanjang dengan aktivitas wisata lain di Karawang sehingga memberikan dampak ekonomi yang lebih luas.
“Selama ini peserta datang hanya untuk melihat proses produksi di pabrik lalu pulang. Padahal mereka bisa diarahkan untuk mengunjungi situs sejarah, menikmati kuliner lokal, menginap di hotel, atau membeli produk UMKM. Efek ekonominya akan sangat besar,” katanya.
Ia menilai keberhasilan program WISKAR sangat bergantung pada dukungan pemerintah daerah dan keterbukaan perusahaan-perusahaan industri untuk menerima kunjungan edukasi secara terjadwal.
“Yang paling penting adalah adanya sinergi antara pemerintah daerah, dunia industri, pelaku pariwisata, sekolah, dan UMKM. Jika perusahaan-perusahaan bersedia membuka akses kunjungan secara terkoordinasi, maka wisata industri Karawang akan memiliki daya tarik yang kuat,” ungkapnya.
Dinah juga menyoroti pentingnya kepastian regulasi agar program wisata industri memiliki landasan hukum yang jelas. Menurutnya, dukungan pemerintah dapat diwujudkan melalui surat edaran, regulasi daerah, maupun kebijakan yang memudahkan koordinasi antarinstansi dan pelaku usaha.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan potensi ekonomi yang dapat dihasilkan dari program tersebut tidak bisa dianggap kecil. Berdasarkan data peserta didik SMK di Jawa Barat, jika sebagian siswa melakukan kunjungan edukasi ke Karawang dengan pengeluaran Rp 100 ribu sampai Rp250 ribu per orang, maka nilai transaksi yang tercipta dapat mencapai ratusan miliar rupiah setiap tahun.
“Manfaatnya bukan hanya untuk hotel dan restoran, tetapi juga UMKM, ekonomi kreatif, transportasi, pemandu wisata, hingga pelaku seni budaya. Ini bisa menjadi sumber pertumbuhan ekonomi baru sekaligus membuka lapangan kerja,” ujarnya.
Dinah berharap konsep Wisata Edukasi Karawang dapat menjadi agenda strategis daerah dalam beberapa tahun ke depan. Menurutnya, perpaduan antara kekuatan industri dan kekayaan destinasi wisata yang dimiliki Karawang merupakan modal besar untuk menjadikan daerah tersebut sebagai pusat wisata edukasi unggulan di Jawa Barat.
“Karawang jangan hanya dikenal sebagai kota industri. Kita harus mulai membangun citra sebagai destinasi wisata edukasi industri yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat secara luas,” pungkasnya.
Editor : Frizky Wibisono