KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Jejak peninggalan masa lampau kembali muncul dari Desa Lemahduhur, Kecamatan Tempuran, Kabupaten Karawang. Empat fragmen bata merah berukuran tak biasa yang selama ini disimpan warga diduga menjadi bagian dari struktur bangunan kuno, bahkan disebut-sebut berkaitan dengan keberadaan candi.
Empat fragmen bata tersebut memiliki ukuran sekitar empat kali lebih besar dibandingkan bata merah yang lazim digunakan untuk bangunan saat ini. Bentuknya persegi dengan material menyerupai tanah liat yang dibakar.
Temuan itu menarik perhatian karena di wilayah Lemahduhur selama ini berkembang cerita mengenai kawasan yang dikenal masyarakat sebagai Tegal Kramat Bata. Di lokasi tersebut, warga secara turun-temurun menyebut pernah menemukan tumpukan bata berukuran besar.
Cerita tersebut kemudian ditelusuri Benni Burhani, guru SMAN 1 Batujaya yang berasal dari wilayah tersebut. Benni tidak menemukan langsung fragmen bata itu, melainkan mendapat informasi dari warga yang masih menyimpan sejumlah potongan bata berukuran besar.
“Pada awalnya sebetulnya cerita tentang penemuan batu bata itu memang sudah sejak lama, dan sudah jadi turun-temurun, istilahnya cerita rakyat di Desa Lemahduhur,” kata Benni, Selasa (8/9/2026).
Menurut Benni, keberadaan bata berukuran besar di kawasan Tegal Kramat Bata dahulu cukup banyak. Namun, seiring waktu, sebagian bata hilang atau diambil sehingga kini hanya tersisa beberapa spesimen yang masih disimpan warga.
“Saya menemukan salah satu warga yang kemudian menyimpan beberapa spesimen batu bata besar itu. Setelah saya lihat, kemudian saya langsung laporkan,” ujarnya.
Benni kemudian melaporkan temuan tersebut kepada Balai Pelestarian Kebudayaan Jawa Barat serta Badan Arkeolog Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Karawang.
Laporan itu diharapkan dapat menjadi pintu masuk untuk menelusuri lebih jauh keberadaan struktur kuno yang selama ini hanya dikenal melalui cerita masyarakat.
Secara kasatmata, ukuran dan bentuk empat fragmen bata tersebut memiliki kemiripan dengan material bata pada sejumlah peninggalan kuno di Karawang, termasuk yang ditemukan di kawasan Situs Batujaya.
Kemiripan tersebut memunculkan dugaan bahwa bata-bata besar di Lemahduhur mungkin pernah menjadi bagian dari sebuah struktur bangunan kuno, termasuk kemungkinan struktur keagamaan seperti candi.
Namun, dugaan tersebut belum dapat dipastikan. Ukuran, bentuk, maupun bahan bata saja tidak cukup untuk menentukan usia, fungsi, dan asal-usul sebuah benda arkeologis.
Benni mengatakan dokumentasi terhadap fragmen dan lokasi penemuan telah dilakukan sebagai bahan awal untuk pemeriksaan. Ia juga mengarsipkan titik koordinat lokasi temuan untuk membantu proses penelusuran lebih lanjut.
“Harapannya tentu ada penelitian lebih lanjut, sehingga kita bisa mengetahui sebenarnya benda ini peninggalan dari masa apa dan apakah memang berkaitan dengan struktur kuno yang ada di wilayah Karawang,” katanya.
Empat fragmen bata tersebut kini masih disimpan dan dirawat oleh warga. Keberadaannya menjadi penting karena benda-benda tersebut dapat menjadi petunjuk awal untuk mengungkap sejarah kawasan Tegal Kramat Bata yang selama ini diwariskan melalui cerita turun-temurun.
Jika hasil penelitian nantinya membuktikan bahwa fragmen tersebut merupakan bagian dari struktur candi atau bangunan kuno lainnya, temuan di Lemahduhur berpotensi menambah daftar jejak peradaban masa lampau di Karawang.
Karena itu, warga berharap instansi terkait segera melakukan kajian arkeologis agar asal-usul, usia, serta fungsi empat fragmen bata tersebut dapat diketahui secara ilmiah.
Untuk sementara, empat fragmen itu tetap menjadi teka-teki sejarah di tengah masyarakat Desa Lemahduhur: apakah hanya bata kuno biasa, atau bagian dari struktur bangunan bersejarah yang selama ini terkubur dalam cerita Tegal Kramat Bata.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
