KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Pasca ramai dikunjungi wisatawan pada libur lebaran 2026, pengelola wisata Pantai Pulau Putri di Desa Segarjaya, Kecamatan Batujaya, Kabupaten Karawang memastikan tarif tiket masuk yang diterapkan tetap terjangkau dan bersifat inklusif tanpa biaya tambahan.
Ketua Pengelola Pantai Pulau Putri, Misan Syamsuri mengatakan, pengunjung kendaraan roda dua cukup membayar Rp20.000 per motor, sudah termasuk penumpang. Sementara itu, kendaraan roda empat dikenakan tarif Rp50.000 per mobil, juga berlaku tanpa batas jumlah penumpang.
“Jadi kita hitungnya per kendaraan, bukan per orang. Motor Rp20.000, mobil Rp50.000, itu sudah termasuk semuanya, tidak ada biaya parkir atau pungutan lain,” ujar Misan, Kamis (26/3/2026).
Dengan skema tersebut, biaya yang ditanggung pengunjung relatif murah. Sebagai contoh, satu mobil berisi empat hingga lima orang hanya mengeluarkan sekitar Rp10.000 per orang.
Pendapatan dari penjualan tiket Pantai Pulau Putri sepenuhnya digunakan untuk pemberdayaan masyarakat setempat. Pengelolaan kawasan wisata ini melibatkan berbagai unsur, mulai dari Karang Taruna, lembaga desa, hingga Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
Dari total pendapatan tiket, sekitar 10 persen dialokasikan untuk pembangunan kawasan wisata, seperti perbaikan jalan, pembangunan gapura, hingga infrastruktur lainnya. Selain itu, sekitar 2,5 persen disisihkan untuk kegiatan keagamaan.
Pengelola juga memberikan kompensasi kepada petani dan pengusaha tambak yang akses jalannya dilalui pengunjung, masing-masing sebesar Rp1.000.
Selain itu, Rp2.000 dari setiap tiket digunakan untuk operasional 41 warga yang terlibat sebagai pengelola, terdiri dari pengawas pantai, petugas keamanan, ketertiban, SDM, humas, koordinator lapangan, karyawan, hingga tenaga bantuan.
Tak hanya itu, sebagian pendapatan juga dialokasikan untuk kompensasi pemilik jembatan yang menjadi akses menuju lokasi wisata, serta untuk pengelolaan sampah dan kebersihan lingkungan.
“Untuk jembatan, kita alokasikan sekitar Rp3.000 dari tiket untuk tiga jembatan. Itu digunakan untuk perawatan sekaligus memberdayakan warga yang menjaga jembatan. Untuk tambak dan petani masing-masing sekitar Rp1.000,” jelasnya.
Misan menegaskan, penetapan tarif tiket tersebut telah diketahui oleh pemerintah desa, kecamatan, hingga kabupaten.
Pemerintah Kabupaten Karawang melalui Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) juga telah memberikan pembinaan kepada pengelola, termasuk terkait penerapan Sapta Pesona, pengelolaan sampah, keamanan, serta keselamatan wisatawan.
Selain itu, keterlibatan aktif dari pemerintah kecamatan, desa, hingga aparat keamanan seperti Satpol PP, Satpolairud, dan Polsek setempat turut mendukung pengelolaan kawasan wisata ini.
“Semua kita bangun dari nol, termasuk jalan dan akses ke lokasi. Jadi memang dari hasil tiket itu kita kembalikan lagi untuk pengembangan wisata,” tuturnya.
Wisata Pantai Pulau Putri mulai dikembangkan kembali secara serius sejak 2023. Sejak saat itu, dampak ekonomi mulai dirasakan masyarakat.
Jika sebelumnya warga hanya mengandalkan penghasilan sebagai nelayan, kini sebagian besar telah memiliki usaha tambahan, seperti penyewaan ban bagi wisatawan.
Warga menyediakan jasa sewa ban dengan tarif Rp10.000 hingga Rp15.000 jam, dengan rata-rata pendapatan mencapai sekitar Rp1 juta per hari.
“Alhamdulillah, sekarang hampir satu kampung punya usaha, terutama sewa ban untuk pengunjung,” ungkapnya.
Pada momen libur Lebaran, jumlah kunjungan wisatawan mengalami lonjakan signifikan. Berdasarkan data pengelola, pada Minggu (22/3/2026) tercatat sebanyak 2.000 sepeda motor dan 125 mobil.
Jumlah tersebut meningkat pada Senin (23/3/2026) dengan 3.100 motor dan 182 mobil, yang menjadi puncak kunjungan. Sementara pada Selasa (24/3/2026), tercatat 1.770 motor dan 110 mobil.
Secara total dalam tiga hari Libur Lebaran, tercatat sebanyak 6.870 sepeda motor dan 417 mobil masuk ke kawasan wisata Pantai Pulau Putri.
Sementara pada hari biasa, jumlah kunjungan wisatawan cenderung stabil. Namun, lonjakan signifikan terjadi setiap akhir pekan, terutama Sabtu dan Minggu.
“Kami ingin memastikan seluruh data kunjungan tercatat secara administratif sebagai bagian dari tata kelola wisata yang terus kami benahi," pungkasnya.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
