Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Dapat Remisi Lebaran, 3 Narapidana Lapas Karawang Langsung Bebas
Advertisement . Scroll to see content

Dihonor Rp100 Ribu, Kader TBC Ngiler Liat Anggaran Perjalanan Dinkes Karawang Capai Rp2,4 Miliar

Rabu, 09 September 2026 | 14:29 WIB
  • author Nurul Rahma Amalia
Dihonor Rp100 Ribu, Kader TBC Ngiler Liat Anggaran Perjalanan Dinkes Karawang Capai Rp2,4 Miliar
Kader TBC Karawang mengeluh reward Rp100 ribu per bulan, sementara anggaran perjalanan dinas Dinkes 2026 mencapai Rp2,4 miliar. Foto : Istimewa

KARAWANG, iNEWSKarawang.id — Di tengah ancaman Tuberkulosis (TBC) di masyarakat, ada 118 kader yang setiap hari menjadi ujung tombak pendampingan pasien di Kabupaten Karawang.

Mereka turun ke lapangan, mendatangi rumah pasien, melakukan investigasi kontak, memberikan edukasi hingga memastikan pasien menjalani pengobatan.

Namun, penghargaan yang diterima para kader tersebut terbilang minim. Dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Karawang, mereka hanya memperoleh reward sekitar Rp100 ribu per bulan atau sekitar Rp1,2 juta dalam setahun.

Ironisnya, angka itu harus dibandingkan dengan anggaran perjalanan dinas Dinkes Karawang sepanjang 2026 yang mencapai Rp2.415.164.000.

Anggaran tersebut tercatat dalam Sistem Informasi Rencana Umum Pengadaan (SIRUP) LKPP dan terbagi dalam 76 paket kegiatan.

Sebanyak 48 paket perjalanan dinas dalam kota dianggarkan Rp1.396.406.000. Sedangkan 28 paket perjalanan dinas biasa mencapai Rp1.018.758.000.

Kontrasnya cukup mencolok. Satu kader TBC hanya menerima sekitar Rp1,2 juta dalam setahun, sementara anggaran perjalanan dinas Dinkes mencapai miliaran rupiah.

Risiko di Balik Tugas Kader

Seorang kader TBC Karawang yang telah menjadi relawan sejak 2015 mengaku pekerjaan tersebut bukan tanpa risiko.

Ia harus berinteraksi langsung dengan pasien, termasuk pasien TBC resistan obat atau TBC RO.

“Risikonya tinggi. Apalagi kita sebagai kader TBC RO, yang resisten obat, risikonya lebih tinggi lagi. Kalau APD tidak lengkap, kemungkinan kita tidak menutup kemungkinan terkontaminasi,” ujarnya, Rabu (9/7/2026).

Risiko tersebut bahkan pernah dialaminya. Ia mengaku pernah terjangkit TBC dan harus menjalani pengobatan selama enam bulan.

Meski pernah sakit, ia tetap memilih kembali menjadi relawan.

Baginya, tugas kader tidak berhenti pada menemukan pasien. Mereka harus membangun komunikasi agar pasien percaya, mau menjalani pengobatan dan tidak berhenti di tengah jalan.

“Kerja kader itu bukan hanya menemukan pasien. Kita juga harus memberikan edukasi, melakukan investigasi kontak dan memastikan pasien mau menjalani pengobatan sampai selesai,” katanya.

Turun ke Rumah Pasien

Tugas lain yang tidak kalah penting adalah investigasi kontak. Kader harus mendatangi lingkungan tempat tinggal pasien untuk mencari orang yang kemungkinan melakukan kontak erat.

Dari sana, kader membantu mengarahkan warga yang berisiko untuk mendapatkan pemeriksaan.

Aktivitas tersebut membuat kader menjadi salah satu ujung tombak penanganan TBC di tingkat masyarakat.

Namun, reward yang diterima tidak dibayarkan setiap bulan. Kader menerima sekitar Rp300 ribu setiap tiga bulan.

Dalam setahun, totalnya sekitar Rp1,2 juta.

“Kalau dihitung memang tidak sebanding dengan risikonya. Tapi kita rida karena memang sudah menjadi relawan,” ujarnya.

Saat ini, sekitar 118 kader TBC aktif di Karawang. Mereka berasal dari berbagai unsur masyarakat, seperti kader Posyandu, Pos KB, Karang Taruna dan relawan sosial lainnya.

Di tengah keterbatasan dukungan tersebut, komunitas justru disebut banyak membantu aktivitas para kader.

“Yang paling banyak backup itu sebenarnya komunitas, bukan Dinas,” katanya.

Ia berharap pemerintah daerah memberi perhatian lebih terhadap kesejahteraan kader TBC. Sebab, pekerjaan mereka bersentuhan langsung dengan pasien dan memiliki risiko paparan penyakit.

Rp2,4 Miliar untuk Perjalanan Dinas

Sementara itu, data SIRUP LKPP menunjukkan Dinkes Karawang menganggarkan Rp2.415.164.000 untuk perjalanan dinas sepanjang 2026.

Anggaran tersebut terdiri dari 48 paket perjalanan dinas dalam kota senilai Rp1.396.406.000 dan 28 paket perjalanan dinas biasa sebesar Rp1.018.758.000.

Di sisi lain, seorang kader TBC hanya memperoleh reward sekitar Rp1,2 juta selama setahun.

Perbandingan tersebut memperlihatkan kontras dukungan anggaran antara aktivitas perjalanan dinas dengan para relawan yang berada langsung di lapangan menangani pendampingan pasien TBC.

Padahal, kader memiliki peran penting dalam membantu menemukan kasus, melakukan investigasi kontak, memberikan edukasi dan memastikan pasien menjalani pengobatan.

“Risikonya tinggi, sedangkan reward-nya tidak sebanding. Tapi kita rida karena memang sudah menjadi relawan,” pungkasnya.

Editor: Frizky Wibisono

Related News

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut