DLH Karawang Olah 60 Ton Sampah per Hari Jadi RDF, Siap Pasok 600 Ton per Bulan ke Industri
Ia menjelaskan, kebutuhan RDF Indocement sangat besar karena perusahaan tersebut menggunakan bahan bakar alternatif selain batu bara dalam proses produksinya.
“Kami sempat mengundang sekitar 27 calon offtaker pengguna batu bara. Salah satunya Indocement, karena kebutuhan bahan bakarnya besar dan RDF Karawang masuk dalam spesifikasi mereka,” jelas Willy.
DLH menargetkan dapat memasok sekitar 600 ton RDF per bulan atau sekitar 20 ton per hari secara bertahap sesuai kesepakatan kerja sama.
“Kalau kerja sama ini berjalan sesuai PKS, targetnya setiap hari kita bisa mengirim sekitar 20 ton RDF,” ujarnya.
Willy menambahkan, RDF produksi Karawang telah memenuhi spesifikasi Grade A dengan nilai jual sekitar Rp350 ribu per ton.
Ia menjelaskan proses pembuatannya dimulai dari pemilahan sampah secara manual untuk memisahkan logam, kaca, dan material keras lainnya yang tidak dapat diolah. Selanjutnya, sampah dicacah hingga menjadi bahan bakar alternatif.
“Botol dan material yang masih bisa didaur ulang dipilah manual. Setelah itu sampah masuk mesin pencacah. Sampah organik maupun nonorganik tertentu bisa menjadi RDF. Yang tidak bisa hanya logam, kaca, dan benda padat lainnya,” terangnya.
Menurutnya, jenis sampah yang selama ini sulit dimanfaatkan, seperti popok sekali pakai dan plastik multilapis (multilayer), justru dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku RDF.
Selain mengurangi volume sampah, program tersebut juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Sekitar 25 warga dilibatkan di setiap TPST untuk melakukan pemilahan sampah sehingga memperoleh tambahan penghasilan.
Namun, pengembangan RDF sempat terkendala kebakaran yang melanda TPST Mekarjati dan Cirejag. Peristiwa itu menghanguskan sekitar 200 ton RDF yang sebenarnya telah siap dikirim.
“Padahal saat itu RDF sudah siap sebelum PKS berjalan. Ternyata ada musibah kebakaran,” ungkap Willy.
Pascakebakaran, World Bank melakukan evaluasi dan akan membantu peningkatan sistem keselamatan di lokasi pengolahan RDF, mulai dari penyediaan alat pemadam api ringan (APAR), sistem keamanan, hingga pembangunan gudang penyimpanan.
“Nanti akan disiapkan alat pemadam, APAR, sistem keamanan, termasuk pembangunan gudang penyimpanan. Jadi RDF yang sudah diproduksi dipindahkan dulu ke gudang sebelum didistribusikan ke Indocement,” katanya.
Selain aspek keselamatan, World Bank juga berencana meningkatkan kapasitas TPST Mekarjati dan Cirejag dari sekitar 20 ton menjadi 40 ton per hari.
Saat ini, volume sampah yang masuk ke TPA Jalupang berkisar 360 hingga 400 ton per hari. Meski pengurangan melalui RDF baru mencapai sekitar 60 ton per hari, DLH optimistis kapasitas tersebut akan terus meningkat seiring pengembangan fasilitas dan revitalisasi TPA Jalupang.
“Kalau pemilahan dari sumber berjalan, volume sampah yang masuk ke TPA akan semakin berkurang. Ini yang terus kami dorong,” pungkas Willy.
Editor : Frizky Wibisono