Potensi Desa Wisata Karawang Besar, Pengamat Sebut Penguatan SDM Jadi PR Utama
Selain itu, Lia menilai pengelola desa wisata harus memiliki sumber pendapatan mandiri agar tidak selalu bergantung pada bantuan pemerintah. Pengelola dapat mengembangkan usaha kecil seperti kios, kedai kopi, atau penjualan cenderamata yang hasilnya digunakan untuk mengelola destinasi.
“Jangan selalu tergantung kepada pemerintah. Pengelola harus punya usaha sendiri agar ada pemasukan untuk mengurus desa wisata,” ujarnya.
Persoalan lain yang juga menjadi tantangan adalah pengelolaan sampah seiring meningkatnya jumlah kunjungan wisatawan. Menurutnya, sampah justru dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi jika dikelola secara kreatif.
“Sampah itu sekarang bisa menjadi peluang ekonomi. Kuncinya kembali lagi kepada manusia yang kreatif dan inovatif,” katanya.
Lia menegaskan pengembangan desa wisata membutuhkan proses panjang dan tidak bisa dilakukan secara instan. Pendampingan secara berkelanjutan dinilai penting agar masyarakat mampu mengelola potensi yang dimiliki dan memiliki daya saing.
“Saya rata-rata mendampingi sampai lima tahun. Desa wisata tidak bisa sehari dua hari. Yang penting masyarakat kompak, tidak ada konflik, dan dimulai dari hal-hal kecil terlebih dahulu,” ungkapnya.
Editor : Frizky Wibisono