Alam Karawang di Titik Nadir.Di Balik Deru Mesin Pabrik, Nafas Sungai Kian Sesak
“Kalau perubahan morfologi itu berizin, harusnya ada pengelolaan risiko lingkungan yang jelas. Tapi kita tidak tahu sejauh mana itu dilakukan,” katanya.
Lebih jauh, Willy menilai aktivitas industri, khususnya pabrik kertas, memiliki kontribusi besar terhadap menurunnya kualitas air sungai di Karawang. Ia menilai masih ada kelalaian dalam pengelolaan IPAL, yang menyebabkan limbah kerap lolos ke aliran sungai.
Data yang dihimpun ForkadasC+ pada 2020 menunjukkan sejumlah sungai di Karawang seperti Cikereteg, Cipagadungan, dan Cibodas telah berada pada status “tercemar berat”. Kondisi ini dikhawatirkan akan semakin memburuk dengan bertambahnya kawasan industri di wilayah tersebut.
Dampak pencemaran pun mulai dirasakan masyarakat. Selain mengganggu ekosistem, limbah berbahaya berpotensi masuk ke rantai makanan, terutama melalui ikan yang masih dikonsumsi warga.
“Kalau merkuri terus terakumulasi di tubuh ikan dan dikonsumsi masyarakat, tentu bisa berdampak pada kesehatan dalam jangka panjang,” ungkapnya.
Tak hanya itu, penggunaan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari seperti mencuci juga berisiko jika pencemaran terus terjadi.
Willy juga menilai penanganan pencemaran lingkungan masih belum maksimal. Ia menyebut penindakan terhadap industri besar cenderung lemah dan kalah oleh kepentingan investasi.
Editor : Frizky Wibisono