get app
inews
Aa Text
Read Next : Dapat Remisi Lebaran, 3 Narapidana Lapas Karawang Langsung Bebas

Alam Karawang di Titik Nadir.Di Balik Deru Mesin Pabrik, Nafas Sungai Kian Sesak

Minggu, 29 Maret 2026 | 22:20 WIB
header img
Alam Karawang di Titik Nadir: Di Balik Deru Mesin Pabrik, Nafas Sungai Kian Sesak. Foto : Istimewa

KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Fenomena berubahnya warna air Sungai Cigembol di Desa Kutanegara, Kecamatan Ciampel menjadi putih pekat memunculkan kekhawatiran serius terhadap kondisi lingkungan di Karawang. Peristiwa ini dinilai bukan sekadar insiden sesaat, melainkan bagian dari akumulasi persoalan lama akibat aktivitas industri.

Anggota Yayasan ForkadasC+, Willy Firdaus, menyebut perubahan warna air sungai tersebut diduga kuat disebabkan oleh sludge paper atau limbah sisa pengolahan bubur kertas yang seharusnya diolah melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL), namun justru terbuang ke aliran sungai.

“Berubahnya warna air di Sungai Cigembol itu dampak dari sludge paper yang harusnya diolah di IPAL, tapi malah terbuang ke drainase sehingga masuk ke sungai,” ujarnya. Minggu,(29/3/2026).

Sludge paper sendiri termasuk dalam kategori B3 (bahan berbahaya dan beracun) kategori 2. Meski tidak seberbahaya kategori 1, limbah ini tetap mengandung zat berbahaya, salah satunya logam berat merkuri (Hg) yang dalam sejumlah penelitian mencapai 2,4 ppm.

Ancaman Lombah Logam Berat dan Kerusakan Ekosistem

Menurut Willy, jika limbah tersebut terus mengendap di tanah atau perairan, maka berpotensi menimbulkan pencemaran serius dan berdampak jangka panjang terhadap lingkungan.

Ia juga menyoroti potensi perubahan morfologi sungai akibat aktivitas industri. Aliran sungai yang masuk ke kawasan pabrik dinilai mirip dengan kasus sebelumnya di wilayah lain di Karawang.

“Kalau perubahan morfologi itu berizin, harusnya ada pengelolaan risiko lingkungan yang jelas. Tapi kita tidak tahu sejauh mana itu dilakukan,” katanya.

Lebih jauh, Willy menilai aktivitas industri, khususnya pabrik kertas, memiliki kontribusi besar terhadap menurunnya kualitas air sungai di Karawang. Ia menilai masih ada kelalaian dalam pengelolaan IPAL, yang menyebabkan limbah kerap lolos ke aliran sungai.

Data yang dihimpun ForkadasC+ pada 2020 menunjukkan sejumlah sungai di Karawang seperti Cikereteg, Cipagadungan, dan Cibodas telah berada pada status “tercemar berat”. Kondisi ini dikhawatirkan akan semakin memburuk dengan bertambahnya kawasan industri di wilayah tersebut.

Dampak Nyata bagi Masyarakat

Dampak pencemaran pun mulai dirasakan masyarakat. Selain mengganggu ekosistem, limbah berbahaya berpotensi masuk ke rantai makanan, terutama melalui ikan yang masih dikonsumsi warga.

“Kalau merkuri terus terakumulasi di tubuh ikan dan dikonsumsi masyarakat, tentu bisa berdampak pada kesehatan dalam jangka panjang,” ungkapnya.

Tak hanya itu, penggunaan air sungai untuk kebutuhan sehari-hari seperti mencuci juga berisiko jika pencemaran terus terjadi.

Willy juga menilai penanganan pencemaran lingkungan masih belum maksimal. Ia menyebut penindakan terhadap industri besar cenderung lemah dan kalah oleh kepentingan investasi.

“Sepertinya kita masih condong pada kepentingan investasi dan penyerapan tenaga kerja, sehingga kecil kemungkinan ada sanksi tegas,” ujarnya.

Ia menegaskan, kasus pencemaran oleh industri skala besar seharusnya ditangani langsung oleh pemerintah pusat, bukan hanya pemerintah daerah.

Ancaman Krisis Ekologis di Depan Mata

Jika kondisi ini terus dibiarkan, Willy memperingatkan Karawang berpotensi menghadapi krisis ekologis di masa depan. Ia menyoroti alih fungsi kawasan perbukitan yang menjadi hulu sungai menjadi kawasan industri sebagai ancaman serius.

“Kalau hulunya saja sudah jadi drainase pabrik, maka jangan harap sungai di Karawang akan baik-baik saja,” tegasnya.

Ia berharap seluruh industri di Karawang dapat lebih taat terhadap aturan dan menjaga lingkungan, agar kerusakan tidak semakin meluas dan krisis ekologi dapat dihindari.

Editor : Frizky Wibisono

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut