Sesekali ia menoleh ke belakang, mengingat jalan panjang yang pernah dilaluinya. Dari bantaran Sungai Citarum, dari becak sang ayah, dari pasar, kereta, hingga ruang-ruang kuliah.
Semua perjalanan itu membuatnya hanya mampu mengucapkan satu kalimat penuh syukur.
“Kalau saya melihat ke belakang, saya hanya bersyukur. Tidak pernah terbayang anak tukang becak bisa menjadi guru besar. Semua karena doa orang tua, kerja keras, dan kesempatan yang Allah berikan.” tuturnya.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
