KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Tim dosen Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES) Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) menggelar program pengabdian kepada masyarakat dengan memberikan edukasi kepada ibu nifas di Desa Lemahmulya, Kecamatan Majalaya, Kabupaten Karawang.
Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan dan kepercayaan diri ibu dalam memberikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, sekaligus memperkuat dukungan keluarga selama masa menyusui.
Ketua Tim Pengabdi FIKES UNSIKA, Irma Yanti, mengatakan masa nifas merupakan fase penting yang menentukan keberhasilan pemberian ASI eksklusif. Namun, masih banyak ibu yang mengalami kesulitan karena kurang memahami teknik menyusui dan belum mendapat dukungan penuh dari keluarga.
“Melalui kegiatan ini kami ingin meningkatkan pengetahuan dan kepercayaan diri ibu nifas dalam memberikan ASI eksklusif. Dukungan suami, keluarga, kader kesehatan, dan tenaga kesehatan menjadi faktor penting agar ibu dapat menyusui dengan optimal,” ujar Irma Yanti, Senin (20/7/2026).
Menurutnya, keberhasilan ASI eksklusif tidak hanya bergantung pada ibu, tetapi juga dipengaruhi lingkungan sekitar yang mampu memberikan dukungan secara emosional maupun praktis.
“Menyusui bukan hanya tanggung jawab ibu. Kehadiran suami dan keluarga sangat menentukan keberhasilan ASI eksklusif, karena ibu membutuhkan dukungan agar lebih percaya diri selama masa menyusui,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, tim dosen tidak hanya memberikan penyuluhan, tetapi juga menggelar demonstrasi teknik menyusui yang benar, konseling individu, serta penguatan efikasi diri bagi ibu menyusui. Seluruh rangkaian kegiatan dirancang agar peserta mampu mengatasi berbagai kendala yang sering muncul selama masa nifas.
Kegiatan yang berlangsung di Aula Desa Lemahmulya itu melibatkan bidan koordinator, petugas promosi kesehatan Puskesmas Majalaya, kader posyandu, mahasiswa, serta Pemerintah Desa Lemahmulya. Peserta terdiri dari ibu nifas yang didampingi suami maupun anggota keluarga lainnya.
Irma menambahkan, tim pengabdian juga menggagas pembentukan Kelas Ayah ASI dan Kelompok Pendukung ASI (KP-ASI) sebagai upaya membangun ekosistem yang mendukung ibu menyusui di tingkat masyarakat.
“Kami ingin membangun sistem pendampingan yang berkelanjutan. Melalui Kelas Ayah ASI dan Kelompok Pendukung ASI, kami berharap para ibu tidak merasa sendiri saat menghadapi tantangan menyusui,” jelasnya.
Ia berharap program tersebut dapat menjadi model pemberdayaan masyarakat yang dapat diterapkan di berbagai wilayah untuk meningkatkan angka pemberian ASI eksklusif.
“Harapan kami, program ini tidak berhenti pada kegiatan penyuluhan saja, tetapi mampu meningkatkan praktik ASI eksklusif di masyarakat sehingga berdampak pada kesehatan ibu dan bayi serta mendukung pencapaian target pembangunan kesehatan,” pungkas Irma.
Melalui pendekatan berbasis komunitas, program pengabdian ini diharapkan mampu memperkuat praktik menyusui yang benar, meningkatkan keterlibatan keluarga, serta mendorong terciptanya generasi yang lebih sehat sejak awal kehidupan.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
