Trauma Masa Kecil Bisa Membekas hingga Dewasa, Begini Cara Menghadapinya
KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Trauma yang dialami pada masa kanak-kanak dapat meninggalkan dampak psikologis jangka panjang hingga seseorang beranjak dewasa. Pengalaman tersebut dapat memengaruhi cara seseorang memandang kehidupan dan menghadapi berbagai persoalan.
Dokter Spesialis Kejiwaan RSUD Karawang, dr. Gabriela Tantular, M.Biomed., Sp.Kj., mengatakan usia saat seseorang mengalami trauma menjadi salah satu faktor yang memengaruhi besarnya dampak psikologis.
Menurutnya, anak-anak lebih rentan mengalami dampak trauma karena kemampuan mereka dalam memahami situasi dan mengelola emosi belum berkembang secara matang.
“Semakin muda kita mengalami trauma, dampaknya bisa semakin hebat karena pada saat itu kita belum tahu cara mempertahankan diri sendiri,” ujar Gabriela, Kamis (29/10/2026).
Ia menjelaskan, pengalaman traumatis tidak harus terus-menerus menjadi beban dalam kehidupan seseorang. Cara seseorang memaknai pengalaman tersebut dapat memengaruhi proses pemulihan.
“Cara pandang terhadap trauma itu sebenarnya yang perlu kita olah. Kita perlu belajar memahami pengalaman tersebut agar tidak terus-menerus terjebak dalam kejadian buruk di masa lalu,” katanya.
Gabriela menambahkan, proses pemulihan membutuhkan waktu dan pendekatan yang sesuai dengan kondisi masing-masing individu. Pengalaman traumatis dapat menjadi bahan pembelajaran untuk mengembangkan kemampuan menghadapi kesulitan, tanpa mengabaikan dampak emosional yang ditimbulkannya.
Selain itu, ia menyoroti kebiasaan menceritakan kembali pengalaman traumatis kepada orang lain. Menurutnya, tindakan tersebut perlu mempertimbangkan tujuan, situasi, serta kesiapan emosional orang yang bersangkutan.
Menceritakan pengalaman traumatis dapat membantu seseorang memahami dan memproses pengalaman tersebut. Namun, cara dan konteks penyampaiannya perlu diperhatikan agar sesuai dengan kebutuhan pemulihan.
“Menceritakan kembali trauma itu mungkin dalam situasi tertentu tidak baik juga. Tapi kalau tujuannya untuk mencoba menghadapi dan memaknai kembali pengalaman tersebut, itu tidak apa-apa,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan pentingnya memilih orang yang tepat untuk menjadi tempat berbagi. Tidak semua orang memiliki pemahaman dan kemampuan yang sama dalam merespons pengalaman traumatis.
“Karena itu, sebelum menceritakan pengalaman traumatis, kita perlu memahami kebutuhan diri sendiri dan mempertimbangkan apakah orang yang menjadi tempat bercerita bisa memberikan dukungan yang dibutuhkan,” ungkap Gabriela.
Menurutnya, dukungan emosional dari lingkungan yang tepat dapat membantu seseorang menjalani proses pemulihan. Dengan memahami pengalaman yang dialami dan mengembangkan cara pandang yang lebih sehat, seseorang diharapkan mampu menghadapi masa lalu tanpa terus-menerus dibayangi pengalaman traumatis.
Editor: Frizky Wibisono