Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Dapat Remisi Lebaran, 3 Narapidana Lapas Karawang Langsung Bebas
Advertisement . Scroll to see content

145 Murai Batu Dilepas di Pegunungan Sanggabuana, Mengapa Justru Jadi Persoalan?

Jum'at, 25 September 2026 | 12:26 WIB
  • author Gelar Maulana Media
145 Murai Batu Dilepas di Pegunungan Sanggabuana, Mengapa Justru Jadi Persoalan?
Sebanyak 145 ekor burung murai batu diduga dilepasliarkan secara serentak di kawasan Puncak Sempur, Pegunungan Sanggabuana, Kabupaten Karawang. Foto : Istimewa

KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Sebanyak 145 ekor burung murai batu diduga dilepasliarkan secara serentak di kawasan Puncak Sempur, Pegunungan Sanggabuana, Kabupaten Karawang. Aksi tersebut dilakukan tanpa koordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Jawa Barat dan memicu kekhawatiran terhadap kondisi ekosistem setempat.

Pembina Sanggabuana Conservation Foundation (SCF), Bernard Trinarta Wahyu Wiryanta, mengatakan informasi mengenai pelepasliaran tersebut diterima pihaknya dari masyarakat di sekitar Puncak Sempur.

"Informasi yang kami dapatkan, ada 145 ekor burung kicau jenis murai batu yang dilepas di satu titik secara bersamaan. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan," ujar Bernard, Kamis (24/9/2026).

Menurut Bernard, pelepasliaran tersebut menjadi persoalan karena tidak didahului pemeriksaan kesehatan maupun proses karantina. Kondisi itu dikhawatirkan membawa virus, bakteri atau patogen dari burung hasil penangkaran ke populasi burung liar yang sudah hidup di kawasan Sanggabuana.

Selain itu, burung-burung tersebut disebut tidak melalui proses habituasi sebelum dilepas ke alam.

"Burung yang dilepaskan tidak melalui proses habituasi. Laporan yang kami terima, sejumlah burung bahkan ditemukan mati di lokasi," katanya.

SCF menduga kematian burung tersebut berkaitan dengan kemampuan adaptasi yang rendah setelah dilepas dari lingkungan penangkaran. Burung juga dinilai belum tentu mampu mencari pakan alami serta menghindari predator di habitat barunya.

Bernard mengatakan, pihaknya juga menemukan burung murai batu yang masih mengenakan cincin penangkaran bertuliskan "H. Enda" setelah dilepas.

"Burung itu dilepas masih mengenakan cincin di kakinya yang bertuliskan 'H. Enda'. Ini sangat tidak tepat, membiarkan satwa hidup di alam liar dengan kondisi terbelenggu," tegasnya.

Kekhawatiran lain menyangkut asal-usul dan kemurnian genetik burung yang dilepas. SCF menyebut tidak memiliki catatan keberadaan murai batu di kawasan Sanggabuana sejak 2021 hingga 2026.

Karena itu, pelepasliaran murai batu hasil penangkaran dengan asal-usul genetik yang tidak jelas dinilai berpotensi memengaruhi populasi burung liar apabila terjadi perkawinan dengan satwa yang sudah ada di alam.

Biodiversity Science Yayasan Burung Indonesia (BirdLife Indonesia), Achmad Ridha Junaid, mengatakan dari sisi elevasi, Pegunungan Sanggabuana masih berada dalam rentang ketinggian yang dapat menjadi habitat murai batu. Namun, kesesuaian tipe habitatnya masih perlu dikaji.

"Secara rentang elevasi, sebenarnya masih masuk di rentang elevasi habitat murai batu. Tapi berdasarkan tipe habitatnya, sepertinya kurang sesuai," kata Ridha.

Menurut dia, murai batu di alam umumnya ditemukan di hutan dataran rendah, hutan sekunder di kawasan pesisir atau rawa, serta hutan campuran dataran rendah.

"Jadi secara kesesuaian habitatnya sepertinya kurang tepat kalau dilepas di Sanggabuana," ujarnya.

Ridha juga menilai aspek yang paling perlu diperhatikan adalah asal-usul genetik burung yang dilepas. Sebab, murai batu hasil penangkaran dapat berasal dari perkawinan berbagai ras.

"Kalau ternyata ras burung yang dilepas itu bukan asli Jawa, tentu akan bermasalah untuk keragaman genetiknya nanti," katanya.

Dia menambahkan, burung hasil penangkaran juga belum tentu terbiasa dengan kondisi lingkungan alam. Burung dapat mengalami kesulitan menemukan makanan yang sesuai maupun beradaptasi dengan kondisi habitatnya.

"Karena mereka bisa jadi tidak terbiasa dengan kondisi iklim, tidak bisa menemukan makanan yang sesuai, atau bahkan mungkin ada penyakit yang tidak dicek sebelum pelepasliaran," katanya.

Meski demikian, Ridha mengatakan murai batu tidak serta-merta dapat disebut sebagai spesies invasif. Menurutnya, karakter murai batu yang tidak bersifat generalis membuat risiko tersebut perlu dilihat berdasarkan kondisi dan kajian di lapangan.

Sementara itu, Bernard menyebut SCF telah berkoordinasi dengan BBKSDA Jawa Barat untuk menangani dampak pelepasliaran tersebut.

SCF juga melakukan pemantauan terhadap burung-burung yang berada di sekitar basecamp. Burung yang ditemukan dalam kondisi sakit maupun mati dijauhkan dari kawasan hutan untuk mengurangi risiko terhadap satwa lainnya.

Ridha menyarankan burung yang ditemukan mati segera dievakuasi dan ditangani dengan tepat. Langkah tersebut penting karena belum diketahui apakah kematian burung berkaitan dengan penyakit tertentu.

"Utamanya pengambilan individu yang mati. Kita tidak tahu burungnya ada penyakit atau tidak, jadi untuk mengurangi risiko penularan, lebih baik diambil," ujarnya.

Ia juga meminta edukasi kepada masyarakat ditingkatkan agar pelepasliaran satwa tidak dilakukan secara sembarangan.

Menurutnya, masyarakat di sekitar kawasan konservasi perlu mendapat pemahaman agar dapat mengingatkan atau menegur pihak yang hendak melepasliarkan satwa tanpa prosedur.

"Pelepasliaran satwa, apalagi jenis burung, harus memperhitungkan banyak faktor. Karena itu ada BBKSDA yang bertugas mengkaji kesehatan, asal-usul genetik, kesesuaian habitat, kemampuan adaptasi hingga daya dukung ekosistem sebelum satwa dilepas ke alam bebas," tutupnya.

Editor: Frizky Wibisono

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut