get app
inews
Aa Text
Read Next : Dapat Remisi Lebaran, 3 Narapidana Lapas Karawang Langsung Bebas

30 Ribu Ton CBP di Karawang Diserang Kutu, Aktivis Pertanian Desak Audit Total dan Uji Laboratorium

Senin, 20 Juli 2026 | 20:24 WIB
header img
30 Ribu Ton CBP di Karawang Diserang Kutu, Aktivis Pertanian Desak Audit Total dan Uji Laboratorium. Foto : Istimewa

KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Disaat pemerintah pusat terus menggenjot program swasembada pangan dan memperkuat cadangan beras nasional, di Kabupaten Karawang malah ada temuan serangan hama kutu pada sekitar 30 ribu ton Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang tersimpan di Gudang Genesis, Karawang.

Diketahui, Beras yang disimpan pada kawasan pergudangan tersebut ada sebanyak 102 ton besar, 30 ribu diantaranya diserang hama kutu.

Menanggapi hal tersebut, Aktivis pertanian sekaligus pengamat olahan pangan di Karawang, Billi Suwandi, S.P., menilai temuan tersebut harus menjadi momentum evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyimpanan cadangan beras nasional. Menurutnya, persoalan ini tidak boleh dipandang sebagai gangguan hama gudang biasa, melainkan sebagai peringatan terhadap tata kelola logistik pangan nasional.

“Di saat pemerintah pusat sedang gencar mendorong swasembada pangan, justru di Karawang sekitar 30 ribu ton Cadangan Beras Pemerintah diserang hama kutu. Ini ironi. Produksi terus digenjot, tetapi penyimpanan stok strategis juga harus dijaga. Jangan sampai kita berhasil di sawah, tetapi gagal di gudang,” kata Billi kepada Reporter iNewskarawang.id, Senin,(20/7/2026).

Menurutnya, skala beras yang terdampak bukanlah jumlah kecil. Sebanyak 30 ribu ton setara dengan 30 juta kilogram beras yang secara teoritis dapat memenuhi kebutuhan sekitar tiga juta orang selama satu bulan apabila rata-rata konsumsi mencapai 10 kilogram per orang.

“Cadangan Beras Pemerintah merupakan tabungan darurat negara. Beras ini disiapkan untuk menghadapi bencana, operasi pasar, stabilisasi harga, hingga kondisi darurat lainnya. Kalau tabungan pangan negara mengalami penurunan mutu akibat serangan hama, tentu harus menjadi perhatian serius,” ujarnya.

Billi menjelaskan, persoalan tersebut memiliki tiga dimensi yang harus dipahami bersama, yakni skala, indikasi lemahnya sistem pengawasan, serta risiko terhadap kualitas pangan dan keuangan negara.

Dari sisi skala, ia menilai serangan pada puluhan ribu ton beras menunjukkan persoalan yang jauh lebih besar dibanding sekadar ditemukannya kutu pada beberapa karung beras.

Ia juga menyebut, berdasarkan karakteristik biologisnya, kutu beras (Sitophilus oryzae) membutuhkan waktu cukup lama untuk berkembang biak hingga populasinya besar.

“Kalau benar kutu sudah menyerang dalam jumlah sebesar itu, berarti prosesnya tidak terjadi dalam hitungan hari. Artinya patut diduga ada kegagalan deteksi dini, monitoring berkala, ataupun pengendalian hama selama penyimpanan. Ini menjadi red flag bagi sistem pengelolaan Cadangan Beras Pemerintah,” katanya.

Selain itu, Billi mengingatkan bahwa beras yang mengalami serangan hama berpotensi mengalami penurunan mutu. Menurutnya, apabila kondisi tersebut tidak ditangani dengan baik, negara dapat menanggung biaya tambahan untuk proses penyortiran, reconditioning, fumigasi ulang hingga kemungkinan pemusnahan apabila sebagian stok dinyatakan tidak lagi memenuhi standar.

Ia juga menyoroti fungsi utama Perum BULOG yang tidak hanya menyerap gabah petani, tetapi juga menjaga mutu beras hingga didistribusikan kepada masyarakat.

“Kalau kutu memang berasal dari proses penyimpanan di gudang, maka ini harus menjadi evaluasi sistem. Gudang modern seharusnya mampu menjaga kadar air, suhu, kelembapan, serta menjalankan fumigasi dan inspeksi secara berkala. Kalau itu tidak berjalan optimal, maka sistem pengawasannya perlu diperbaiki,” ujarnya.

Terkait perbedaan pernyataan antara BULOG yang menyebut beras masih aman dengan Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (DPKPP) Karawang yang meminta dilakukan pengujian laboratorium, Billi menilai langkah terbaik adalah mengedepankan pembuktian ilmiah.

“Keamanan pangan tidak bisa diputuskan hanya lewat pernyataan. Ikuti sains, bukan klaim. Menurut saya distribusi dari gudang tersebut sebaiknya dihentikan sementara sampai hasil uji laboratorium independen keluar,” tegasnya.

Ia mengusulkan agar pengujian dilakukan oleh laboratorium independen yang telah terakreditasi untuk memeriksa kualitas fisik, kadar air, mikrobiologi, residu pestisida hingga kemungkinan adanya mikotoksin.

Selain pengujian laboratorium, Billi juga mendesak pemerintah melakukan audit menyeluruh terhadap seluruh stok sekitar 30 ribu ton tersebut.

Menurutnya, audit tidak cukup dilakukan melalui pengambilan sampel terbatas, tetapi harus mencakup audit kuantitas untuk mengetahui berapa ton yang masih layak, rusak ringan maupun rusak berat, audit kualitas melalui pengujian laboratorium, serta audit jejak penyimpanan mulai dari waktu beras masuk gudang, asal pengadaan, petugas pemeriksa mutu hingga riwayat fumigasi.

“Audit harus dilakukan secara terbuka. Libatkan lembaga independen, akademisi, serta perwakilan petani agar hasilnya benar-benar dipercaya masyarakat. Ini menyangkut uang rakyat dan pangan rakyat,” katanya.

Billi menilai, apabila nantinya terbukti terjadi penurunan kualitas stok secara signifikan, dampaknya tidak hanya dirasakan pada aspek penyimpanan, tetapi juga terhadap ketahanan pangan nasional.

Ia menjelaskan, stok yang secara administratif tercatat 30 ribu ton bisa saja berkurang secara nyata apabila sebagian tidak lagi layak disalurkan. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu operasi pasar dan program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), terutama untuk wilayah Jabodetabek yang selama ini menjadi daerah distribusi dari Karawang.

Di sisi lain, biaya pemulihan stok juga diperkirakan meningkat karena memerlukan proses penyortiran, pemolesan ulang hingga fumigasi tambahan. Tak hanya itu, menurutnya, kepercayaan publik juga menjadi taruhan.

“Kalau masyarakat sampai menerima bantuan pangan atau beras operasi pasar yang kualitasnya buruk, kepercayaan kepada program pemerintah akan turun. Petani pun bisa kehilangan kepercayaan untuk menjual gabah ke BULOG karena merasa hasil panennya tidak mampu dijaga dengan baik. Padahal BULOG memiliki peran strategis sebagai penjaga stabilitas pangan nasional,” ujarnya.

Karena itu, Billi berharap kasus tersebut tidak ditutup-tutupi, melainkan dijadikan momentum reformasi tata kelola Cadangan Beras Pemerintah.

“Jangan anggap ini sebagai aib. Jadikan momentum untuk memperbaiki sistem, mulai dari modernisasi gudang, digitalisasi pemantauan suhu dan kelembapan, audit stok secara real time, hingga pemberian sanksi apabila ditemukan pelanggaran terhadap SOP penyimpanan,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya Pemerintah menjaga hasil kerja petani hingga sampai ke tangan masyarakat.

“Petani sudah menang melawan hama di sawah. Negara jangan kalah melawan hama di gudang,” pungkasnya.

Sebelumnya, Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Andi Afdal, menjelaskan hama yang ditemukan merupakan hama sekunder komoditas yang tidak menyerang butiran beras.

“Dia tidak merusak komoditasnya, tidak merusak berasnya, jadi berasnya aman. Hama itu hanya berada di bagian samping atau pecahan beras karena kondisi lingkungan gudang,” kata Andi saat meninjau ke Gudang, pada Sabtu,(4/7/2026).

Menurutnya, kompleks Pergudangan Genesis saat ini menyimpan sekitar 102 ribu ton beras dan yang kedapatan berkutu di gudang yang berkapasitas 30 ribu ton.

Untuk mencegah perkembangan hama, Kata Andi, Bulog secara rutin melaksanakan Program Pemberantasan Hama Gudang Terpadu (PHGT), termasuk menjaga kebersihan gudang, melakukan fumigasi setiap tiga bulan, serta penyemprotan insektisida setiap bulan.

“Fumigasi kami lakukan rutin setiap tiga bulan sekali. Selain itu ada penyemprotan setiap bulan untuk memastikan tidak ada perkembangan kutu di gudang,” jelasnya.

Andi menambahkan, kutu Tribolium yang ditemukan lebih banyak mencari tempat bernaung dan tertarik pada area yang terang sehingga terlihat keluar dari gudang.

“Hama ini sedang mencari tempat. Karakteristiknya memang tertarik pada lokasi yang terang, bukan masuk untuk merusak komoditas beras,” tandasnya.

Editor : Frizky Wibisono

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut