Kutu Beras Hebohkan Karawang, Mahasiswa Desak Evaluasi Total Sistem Penyimpanan Bulog
KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Kasus teror kutu beras yang meresahkan warga Kelurahan Tunggakjati, Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang memantik reaksi kalangan mahasiswa. Mereka mempertanyakan komitmen Bulog Karawang dalam menjaga mutu beras sesuai arahan pemerintah pusat dan akan turun langsung ke lapangan untuk menghimpun fakta dari warga maupun pihak terkait.
Ketua DPC GMNI Karawang, Silvan Daniel Sitorus menilai, munculnya kasus kutu beras yang diduga berasal dari gudang penyimpanan seharusnya menjadi alarm bagi Bulog Karawang untuk mengevaluasi sistem pengendalian hama maupun pengawasan mutu beras.
Menurutnya, pemerintah pusat melalui Menteri Pertanian selama ini berulang kali menekankan pentingnya menjaga kualitas beras yang beredar di masyarakat. Karena itu, polemik yang terjadi di Karawang dinilai tidak boleh dianggap sebagai persoalan biasa.
"Kalau benar sampai muncul kutu beras yang meresahkan masyarakat, tentu publik berhak mempertanyakan bagaimana sistem pengawasan kualitas beras di gudang. Ini bukan hanya soal hama, tetapi juga menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap pengelolaan pangan," ujar Silvan, Senin (6/7/2026).
Menanggapi pernyataan Kepala Bulog (Kabulog) Karawang yang menyebut pihaknya secara rutin melakukan perawatan stok beras melalui proses fumigasi menggunakan teknik sulfur sebagai bagian dari pengendalian hama gudang, Silvan justru menilai pernyataan tersebut menjadi bahan evaluasi.
Lebih lanjut kata Silvan, jika prosedur perawatan dan pengendalian hama memang telah dilakukan secara berkala, tetapi kutu beras masih ditemukan hingga meresahkan warga, berarti ada yang perlu dikaji ulang dalam efektivitas langkah tersebut.
"Kalau memang Bulog menyampaikan bahwa perawatan, fumigasi, dan pengendalian hama sudah rutin dilakukan, tetapi faktanya kutu masih ditemukan bahkan sampai masuk ke permukiman warga, berarti ada yang salah atau ada yang kurang efektif dalam langkah tersebut. Ini yang perlu dijelaskan secara terbuka kepada masyarakat," katanya.
Ia menegaskan, Bulog perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem penyimpanan beras, pengendalian hama, hingga pengawasan kualitas di gudang agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
"Jangan sampai prosedurnya sudah ada, tetapi pelaksanaannya tidak mampu mencegah munculnya persoalan di lapangan. Yang menjadi ukuran adalah hasilnya. Kalau masyarakat masih terdampak, tentu evaluasi harus dilakukan," tegasnya.
Silvan juga mengatakan, mahasiswa tidak ingin hanya menerima penjelasan sepihak. Dalam waktu dekat, pihaknya akan turun langsung ke lokasi untuk menemui warga terdampak sekaligus menghimpun fakta di lapangan terkait kondisi terkini pasca-fumigasi yang dilakukan Bulog Karawang.
"Kami ingin memastikan apakah penanganan yang dilakukan benar-benar menyelesaikan persoalan atau hanya meredam polemik yang sedang ramai. Kami akan mendengar langsung keterangan warga dan menyusun hasil temuan secara objektif," katanya.
Selain menemui warga, mahasiswa juga akan meminta penjelasan kepada Bulog Karawang mengenai mekanisme pengawasan kualitas beras selama penyimpanan, standar pengendalian hama, hingga efektivitas fumigasi yang telah dilakukan.
Hasil investigasi lapangan tersebut nantinya akan disampaikan kepada Pemerintah Kabupaten Karawang sebagai bentuk kontrol sosial sekaligus rekomendasi agar sistem pengelolaan gudang penyimpanan beras dapat dievaluasi secara menyeluruh.
"Kami berharap kasus ini menjadi momentum pembenahan. Jangan sampai persoalan serupa kembali terjadi karena lemahnya pengawasan. Kualitas beras harus dijaga, sejalan dengan arahan pemerintah pusat yang menempatkan mutu pangan sebagai prioritas," tegasnya.
Sebelumnya, warga Kelurahan Tunggakjati mengeluhkan serbuan kutu beras yang diduga berasal dari gudang penyimpanan beras di sekitar permukiman. Keluhan tersebut berlangsung selama berbulan-bulan hingga menyebabkan keresahan dan gangguan kesehatan bagi sejumlah warga.
Menindaklanjuti laporan itu, Bulog Karawang telah melakukan fumigasi di gudang penyimpanan serta fogging di lingkungan permukiman sekitar.
Editor : Frizky Wibisono