Pupuk Cair dari Limbah Rajungan, Inovasi PHE ONWJ untuk Masyarakat Pesisir
Pemandangan di lahan Haji Tohar sesungguhnya proses hilir dari sebuah rantai ekonomi rajungan di Desa Sukajaya. Denyut nadi dusun berpenduduk lebih dari 2.000 jiwa ini memang sangat bergantung pada hasil laut.
Dikutip dari Jurnal Abdi Insani terbitan Universitas Mataram Nomor 5, Mei 2025, delapan dari sepuluh pria dewasa di pesisir ini mempertaruhkan nasib sebagai nelayan penjaring rajungan.
Dari sumber yang sama, nelayan harian biasa meraup 5 hingga 10 kilogram rajungan setiap kali melaut. Sementara bagi mereka yang mengandalkan alat tangkap bubu, panen lautnya jauh lebih fantastis, menembus 3 hingga 4 ton setiap bulannya.
Jika diakumulasikan, sepanjang tahun 2023 saja, Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Pasir Putih di desa itu dibanjiri hingga 500 ton rajungan, atau kira-kira setara dengan 41,6 ton per bulan.
Tingginya volume produksi rajungan ini berbanding lurus dengan tingginya timbunan limbah cangkang rajungan.
Rajungan-rajungan hasil tangkapan nelayan itu umumnya disetor ke lima industri rumahan pengupas daging rajungan. Dagingnya menjadi komoditas mahal, bahkan diekspor sampai ke Amerika, sementara berton-ton cangkang sisa kupasan terbuang masif, menciptakan polusi bau dan persoalan sanitasi pelik yang bertahun-tahun menghantui warga pesisir. Pada titik ini, Haji Tohar memberikan solusi. Ia menyediakan lahan miliknya sebagai “tempat sampah” limbah cangkang rajungan.
Namun, inisiatif mandiri yang dilakukan Haji Tohar belum cukup mengurai benang kusut krisis ekologi di Sukajaya. Skala pengolahan tradisional itu tak sebanding dengan volume limbah yang terus bertambah setiap harinya.
Menangkap urgensi tersebut, PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) hadir melalui program TJSL dengan menggandeng Unit Inkubasi, Hilirisasi, dan Komersialisasi Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Universitas Padjadjaran (Unpad) untuk mengubah krisis lingkungan tersebut menjadi berkah ekonomi.
Peneliti Unpad membawa ide mengubah tumpukan limbah cangkang rajungan menjadi pupuk cair. Bahan baku utama pupuk ini berasal dari limbah cair hasil produksi kitosan cangkang rajungan.
Dalam laporannya, Ketua Pelaksana Tim Peneliti Unpad, In-In Hanidah mengungkapkan proses penciptaan pupuk cair yang diberi nama Banyu Subur berawal dari upaya mengekstraksi limbah padat cangkang rajungan untuk diambil senyawa kitosannya.
Dalam proses ekstraksi yang melibatkan pemisahan mineral dan protein tersebut, dihasilkan produk sampingan berupa limbah cair. Alih-alih dibuang, limbah cair inilah yang justru ditangkap dan dijadikan bahan baku utama pupuk cair karena secara saintifik terbukti memendam kekayaan mineral esensial seperti Kalsium, Seng, dan Boron.
Cairan dasar ini kemudian diracik dan diformulasi secara presisi dengan tambahan suplemen pengaya hara mikro agar komposisi nutrisinya berimbang dan sesuai dengan kebutuhan tanaman.
Dari uji coba percontohan di area persawahan Desa Sukajaya, catatan panen menunjukkan bahwa pemberian suplemen pupuk Banyu Subur mampu mendongkrak hasil panen gabah petani. Kabar baiknya lagi, para petani bisa menghemat pengeluaran karena pupuk cair ini mampu menggantikan sebagian dosis pupuk kimia.
“Temuan di lapangan menunjukkan bahwa menyubstitusi separuh dosis pupuk standar dengan Banyu Subur justru melipatgandakan serapan unsur hara vital seperti nitrogen, fosfor, dan kalsium, sehingga padi tumbuh dengan tingkat produktivitas yang mengesankan dan menghasilkan kualitas beras premium,” ujar In-in.
Head of Communication, Relations & CID PHE ONWJ, R Ery Ridwan, mengatakan, transformasi limbah cangkang rajungan menjadi pupuk organik cair Banyu Subur ini adalah upaya inovatif, yang tidak saja menjadi solusi atas krisis lingkungan, tapi juga memberikan nilai tambah.
Ery melanjutkan bahwa dampak yang dihasilkan program ini menyentuh aspek fundamental kesejahteraan petani.
“Kami melihat statistik yang sangat menggembirakan di lapangan, di mana efektivitas produksi gabah melonjak 33 persen sementara beban operasional petani terpangkas 11 persen. Harapan kami, pendekatan ekonomi sirkular yang kami usung mampu memutus rantai ketergantungan petani terhadap pupuk kimia yang mahal, sekaligus memulihkan ekosistem pesisir dari polusi amonia limbah rajungan,” tambahnya.
Menutup pernyataannya, Ery berharap Banyu Subur menjadi prototipe bagi desa-desa pesisir lainnya di Indonesia.
“Kami bermimpi model keberhasilan di Karawang ini bisa direplikasi di titik-titik pesisir lain di Indonesia. Kami ingin membuktikan bahwa dengan keberpihakan yang tepat dan semangat gotong royong, tantangan ekologi seberat apa pun bisa kita jinakkan menjadi peluang ekonomi biru yang tangguh. PHE ONWJ akan terus mendampingi hingga program ini benar-benar menjadi warisan yang kokoh bagi ketahanan pangan dan kelestarian bumi pertiwi,” pungkasnya.
Transformasi limbah cangkang rajungan menjadi pupuk organik cair merupakan upaya inovatif PHE ONWJ dan mitra yang berhasil mengatasi krisis lingkungan dan memberikan nilai tambah ekonomi bagi petani.
Editor : Suriya Mohamad Said