Tak Punya Biaya Untuk Berobat, Kondisi Balita Korban Kekerasan di Karawang Kian Memburuk
KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Sudah hampir satu bulan sejak direkomendasikan untuk dirujuk ke Rumah Sakit Mata Cicendo, Bandung, NA (2,5), balita korban dugaan penganiayaan oleh kekasih ibunya di sebuah kamar hotel di Karawang Barat, beberapa waktu lalu masih bertahan dalam kondisi memprihatinkan di rumahnya. Di tengah keterbatasan ekonomi, harapan kesembuhan anak tersebut kini tertahan karena kendala biaya.
NA menjadi korban dugaan penganiayaan pada Kamis (12/2/2026). Ia mengalami luka serius pada lidah akibat dugaan pengguntingan menggunakan tang, serta kerusakan parah pada mata setelah diduga ditusuk jarum berukuran besar.
Sejak kejadian, NA sempat menjalani perawatan intensif selama tujuh hari di RSUD Karawang. Kondisi lidahnya kini mulai membaik, namun keadaan matanya justru semakin memburuk. Ia kemudian direkomendasikan untuk dirujuk ke rumah sakit mata di Bandung pada Kamis (19/2/2026).
Namun hingga kini, rujukan tersebut belum dapat terlaksana karena keterbatasan biaya. Setiap hari, sang ibu, IP (20), hanya bisa merawat anaknya di rumah dengan penuh kecemasan.
“Mata anak saya masih terus mengeluarkan cairan, lengket dan berbau. Bengkaknya juga belum hilang,” tutur IP, Rabu (18/3/2026).
Ia mengungkapkan, dokter sebelumnya menyampaikan peluang penglihatan anaknya sangat kecil. Meski begitu, masih ada harapan jika segera mendapat penanganan lanjutan di rumah sakit dengan fasilitas lebih lengkap.
Di sisi lain, kondisi ekonomi keluarga semakin terpuruk. Sejak peristiwa itu, IP tidak lagi berjualan gorengan karena harus terus mendampingi anaknya.
“Anak saya maunya selalu dekat. Saya nggak bisa tinggal jualan lagi. Jadi sekarang fokus kesembuhan anak saya,” tegasnya.
Ketua RT 01 RW 03 Perum Pesona Cengkong Asri 1, Dusun Kalimulya, Desa Cengkong, Kecamatan Purwasari, Karawang, Saeful mengatakan, pihak lingkungan bersama kuasa hukum korban kini berinisiatif membuka donasi untuk membantu biaya pengobatan dan kebutuhan sehari-hari NA selama proses rujukan ke Bandung.
“Kami dari lingkungan sudah berupaya membantu semampunya. Saat ini juga sudah dibuka donasi untuk meringankan beban keluarga, terutama untuk biaya transportasi, akomodasi, dan kebutuhan selama pengobatan di Bandung,” ujar Saeful.
Ia menjelaskan, hingga tiga hari donasi dibuka, dana yang terkumpul baru sekitar Rp846 ribu. Jumlah tersebut dinilai masih jauh dari cukup, mengingat belum diketahui berapa lama NA harus menjalani perawatan di rumah sakit nantinya.
“Kebutuhannya belum bisa dipastikan karena tergantung penanganan medis nanti. Tapi yang jelas, keluarga sangat membutuhkan uluran tangan dari berbagai pihak,” katanya.
Selain untuk kebutuhan pengobatan saat ini, pihak RT juga berharap ada perhatian jangka panjang terhadap masa depan NA, mengingat risiko gangguan penglihatan permanen yang bisa berdampak pada kehidupan sosial dan pendidikannya kelak.
“Kami berharap bantuan tidak hanya saat ini saja, tapi juga ke depannya. Bagaimana nanti masa depan anak ini, itu juga perlu jadi perhatian bersama,” pungkasnya.
Editor : Frizky Wibisono