get app
inews
Aa Text
Read Next : Puluhan Kasus Narkotika di Karawang Terungkap Polisi, 28 Tersangka Berhasil Dibekuk

Karawang Menuju Pusat Ekonomi Digital, Investasi Ekraf Capai Rp4,46 Triliun

Senin, 09 Maret 2026 | 19:25 WIB
header img
Karawang Menuju Pusat Ekonomi Digital, Investasi Ekraf Capai Rp4,46 Triliun. Foto : Ilustrasi/AI

KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Nilai investasi industri ekonomi kreatif (ekraf) di Kabupaten Karawang mencapai Rp4,46 triliun. Angka tersebut menyumbang 8,31 persen dari total investasi ekraf di Jawa Barat yang tercatat sebesar Rp53,3 triliun. Hal tersebut menjadikan Karawang sebagai salah satu destinasi investasi unggulan di Jawa Barat, khususnya pada subsektor ekraf.

Data tersebut merujuk pada laporan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Provinsi Jawa Barat Tahun 2025 serta hasil rapat rekonsiliasi seluruh Kepala Dinas Pariwisata se-Jawa Barat pada 3 Maret 2026.

Kepala Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Karawang, Abas Sudrajat mengatakan, capaian tersebut didukung oleh ekosistem industri yang cukup kuat. Saat ini terdapat 352 perusahaan yang mencakup 117 Klasifikasi Baku Lapangan Usaha Indonesia (KBLI) pada subsektor ekonomi kreatif di Karawang.

“Dominasi investasi di bidang teknologi tinggi ini menjadi sinyal bahwa Karawang sedang bertransformasi menuju ekonomi digital. Ini juga menjadi tantangan bagi SDM Karawang untuk terus meningkatkan kualitas dan kapasitas teknis agar mampu bersaing di industri teknologi kelas dunia,” ujar Abas, Senin (9/3/2026).

Dia menjelaskan, capaian investasi tertinggi berasal dari subsektor aplikasi dengan nilai mencapai Rp3 triliun. Subsektor ini didominasi perusahaan teknologi global dan infrastruktur digital skala besar seperti PT Amazon Data Services Indonesia, PT Microsoft Operations Indonesia, PT Datacenter Indonesia Sukses Makmur, dan PT Allage Milenial Indonesia.

Meski hanya menyerap sekitar 37 tenaga kerja, subsektor aplikasi merupakan industri padat modal (capital intensive) yang menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi digital di masa depan.

Sementara itu, penyerapan tenaga kerja terbesar berasal dari subsektor kriya, kuliner, dan fesyen yang tergolong sektor padat karya.

Subsektor kriya menempati posisi kedua dengan nilai investasi Rp845 miliar dan menyerap 1.639 tenaga kerja. Industri ini digerakkan oleh perusahaan seperti PT Kobin Keramik Industri dan PT Concord Industry.

Selanjutnya, subsektor kuliner mencatatkan investasi Rp465 miliar dengan penyerapan 1.394 tenaga kerja. Investor utamanya antara lain PT Barry Callebaut Indonesia, PT Agel Langgeng, dan PT Dali Foods Indonesia.

Adapun subsektor fesyen mencatatkan nilai investasi Rp70 miliar dengan penyerapan tenaga kerja sebanyak 206 orang, didukung oleh perusahaan seperti PT Chang Shin Indonesia dan PT Scenic International Trading.

Menurut Abas, investasi industri ekonomi kreatif di Karawang membentuk ekosistem yang saling melengkapi antar subsektor.

“Subsektor aplikasi menyediakan teknologinya, kriya dan fesyen menghadirkan produk estetikanya, sementara kuliner memenuhi kebutuhan konsumsi. Jika dikelola secara terintegrasi, Karawang akan memiliki mesin pertumbuhan ekonomi yang tidak hanya cepat, tetapi juga inklusif,” katanya.

Abas menegaskan, kehadiran perusahaan teknologi besar juga berpotensi menjadi “jalan tol digital” bagi subsektor ekonomi kreatif lainnya. Infrastruktur digital seperti data center dan layanan cloud dapat dimanfaatkan pelaku usaha kriya, kuliner, fesyen, hingga subsektor ekraf lainnya untuk melakukan digitalisasi pemasaran, manajemen stok, hingga ekspansi pasar global.

“Subsektor aplikasi memang padat modal, tetapi kriya, kuliner, dan fesyen adalah sektor padat karya. Kombinasi ini memastikan pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas,” jelasnya.

Untuk mendorong perkembangan ekonomi kreatif ke depan, Abas menekankan pentingnya kolaborasi seluruh pihak dalam konsep hexahelix yang melibatkan akademisi, pengusaha, komunitas, pemerintah, media, serta lembaga perbankan.

“Tentunya untuk mewujudkan perkembangan ekonomi kreatif yang lebih baik di masa yang akan datang memerlukan kolaborasi dari seluruh stakeholder hexahelix seperti akademisi, pengusaha, komunitas, pemerintah, media dan lembaga perbankan," pungkasnya.

Editor : Frizky Wibisono

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut