get app
inews
Aa Text
Read Next : Satresnarkoba Polres Karawang Ungkap Peredaran Sabu 120 Gram di Banyusari

Seabad Bendungan Walahar, Dari Infrastruktur Kolonial Menjadi Cagar Budaya

Senin, 01 Desember 2025 | 21:20 WIB
header img
Seabad Bendungan Walahar, Dari Infrastruktur Kolonial Menjadi Cagar Budaya. Foto : Istimewa

KARAWANG, iNEWSKarawang.id — Seratus tahun bukan usia yang pendek bagi sebuah bangunan. Namun Bendungan Walahar, yang berdiri anggun di tepian Sungai Citarum sejak 30 November 1925, masih tetap kokoh seperti saat pertama kali dibangun.

Di usianya yang seabad, bendungan ini tak hanya menjadi infrastruktur penting, tetapi juga penjaga memori sejarah Karawang sebagai lumbung padi Nusantara.

Pada Minggu (30/11), momentum satu abad itu diperingati melalui Sarasehan Sejarah Bendungan Walahar. 

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Karawang, Obar Subarja, hadir sebagai narasumber dan menekankan betapa vitalnya bendungan peninggalan kolonial Belanda ini dalam perjalanan tata air yang membentuk wajah pertanian Karawang.

"Fungsi Bendung Walahar memiliki arti penting dalam sejarah, terutama bagi kegiatan pertanian sejak dioperasikan pada 30 November 1925,” ujar Obar.

Bendungan Walahar mulai dirancang pada 1920, masa ketika pemerintah kolonial menaruh perhatian besar pada pengelolaan air di tanah Jawa. Lokasinya di Kampung Walahar, Kecamatan Klari, dipilih karena berada di jalur vital Sungai Citarum.

Struktur bendungan sepanjang 150 meter dan lebar 12 meter ini terbagi dalam dua bagian:

Bagian bawah dengan empat pintu air besar, ditambah satu pintu di sisi selatan yang dulu digunakan perahu pengangkut kayu.

Bagian atas berupa ruang mesin dari kayu jati, yang hingga kini masih menyimpan peralatan bendung buatan Cekoslowakia, nyaris tanpa perbaikan sejak dipasang seabad lalu.

Arsitekturnya menampilkan perpaduan fungsi dan estetika. Atap limasan dari kayu jati, genteng keser, lengkung-lengkung struktural, hingga ornamen geometris pada dinding menunjukkan detail rancangan khas awal abad ke-20. 

Lantainya dilapisi batu andesit, sementara pintu besinya memiliki pola belah ketupat yang kini menjadi bagian dari identitas visual bangunan.

Sejak pertama kali dioperasikan, Bendungan Walahar menjadi tulang punggung irigasi Karawang. Air yang dialirkannya menghidupi ribuan hektare sawah dan menopang produksi pangan wilayah ini. Selain irigasi, bendungan juga berperan dalam penyediaan air bersih, kebutuhan industri, perikanan, hingga pariwisata.

Letaknya yang strategis, berbatasan dengan Desa Anggadita di utara, Kutapohaci di selatan, serta menghadap aliran Citarum di timur dan barat, membuat kawasan ini mudah diakses dan terus hidup sebagai ruang publik.

Atas nilai sejarah, teknologi, dan budaya itulah, Bendungan Walahar ditetapkan sebagai Cagar Budaya berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor PM.58/PW.007/MKP/2010 pada 22 Juni 2010.

Meski kini bagian atas dan bawah bendungan telah ditutup dan difungsikan sebagai jalur penghubung antara Ciampel dan Klari, struktur utamanya tetap dipertahankan. 

Obar menegaskan bahwa langkah pelestarian sangat penting agar bangunan yang menjadi saksi perkembangan Karawang ini tidak kehilangan identitasnya.

Seratus tahun kemudian, Bendungan Walahar bukan hanya bangunan teknik. Ia adalah penanda zaman, bukti bahwa sebuah infrastruktur bisa menjadi warisan budaya, selama dijaga dan dihargai. Dan hari ini, Walahar masih mengalirkan bukan hanya air, tetapi juga cerita panjang tentang Karawang.

Editor : Frizky Wibisono

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut