Hadapi Era AI, Wamendiktisaintek Dorong Maba Unsika Terus Berinovasi, Bukan Sekadar Pengguna

Gelar Maulana Media
Wamendiktisaintek Stella Christie mengajak mahasiswa terus berinovasi dan berpikir kritis agar tak kalah saing dengan AI, bukan sekadar menjadi penggunanya. Foto : Istimewa

KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) RI, Prof. Stella Christie, A.B., Ph.D., mendorong mahasiswa baru Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA) untuk lebih aktif, kreatif, dan inovatif agar tidak kalah bersaing dengan perkembangan Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, mahasiswa harus mampu menciptakan pengetahuan baru, bukan sekadar menjadi pengguna teknologi.

Pesan tersebut disampaikan Stella saat menyampaikan orasi ilmiah bertajuk “Artificial Intelligence (AI) untuk Mahasiswa Perguruan Tinggi: Membangun Talenta Unggul, Adaptif, dan Berdampak di Era Transformasi Digital” dalam rangkaian Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) UNSIKA di Aula Syekh Quro, Senin (27/7/2026).

Stella mengatakan perkembangan AI merupakan sebuah keniscayaan yang tidak bisa dihentikan. Karena itu, mahasiswa dituntut terus mengembangkan kemampuan berpikir kritis, berinovasi, dan menghasilkan karya yang memiliki nilai tambah.

“Di era AI ini, bagaimana agar pendidikan tinggi tetap berkelanjutan? AI sudah bisa menjawab banyak pertanyaan. Jadi, apa gunanya kita kuliah? Pertanyaan itulah yang harus dijawab oleh setiap mahasiswa,” ujar Stella.

Menurutnya, keunggulan manusia dibanding AI terletak pada kemampuan melahirkan ide dan inovasi baru. Karena itu, mahasiswa tidak boleh hanya bergantung pada teknologi dalam proses belajar.

“Jangan hanya menjadi pengguna AI. Jadilah pencipta pengetahuan, pencipta inovasi, dan pencipta solusi bagi berbagai persoalan di masyarakat,” tegasnya.

Dalam orasinya, Stella menjelaskan tiga peran utama perguruan tinggi agar lulusannya tetap relevan di era AI.

Peran pertama adalah Creation of Knowledge atau menciptakan pengetahuan. Ia menilai kemajuan peradaban selalu lahir dari riset, inovasi, dan gagasan baru yang dihasilkan manusia.

“Kalau kita hanya mengajarkan hal yang sama terus-menerus, saya jamin anak didik kita tidak akan bisa bersaing dengan AI,” katanya.

Peran kedua, Transmission of Knowledge, yakni mentransmisikan pengetahuan kepada generasi berikutnya. Menurut Stella, universitas harus memiliki arah yang jelas dalam membangun dan mewariskan ilmu pengetahuan.

“Kalau universitas tidak mempunyai arah yang jelas tentang pengetahuan apa yang ditransmisikan, lulusan universitas akan digantikan oleh AI,” ungkapnya.

Sedangkan peran ketiga adalah Curation of Knowledge, yaitu kemampuan memilih, menghubungkan, dan menjelaskan informasi yang benar-benar penting di tengah melimpahnya data yang tersedia.

“Pengetahuan yang sesungguhnya bukan hanya menemukan fakta, tetapi memilih dari begitu banyak fakta mana yang penting bagi peradaban manusia,” jelas Stella.

Selain membahas tantangan dunia pendidikan, Stella juga mengingatkan mahasiswa mengenai dampak lingkungan dari perkembangan AI. Menurutnya, setiap perintah yang diketik pada platform AI seperti ChatGPT atau Claude diproses di pusat data (data center) yang membutuhkan energi listrik dan air bersih dalam jumlah besar.

“Setiap kali kalian mengetik di ChatGPT atau Claude, itu harus dihitung oleh komputer di data center, dan itu memakan energi, listrik, dan air,” ujarnya.

Ia memaparkan konsumsi listrik pusat data AI diproyeksikan terus meningkat setiap tahun. AI juga membutuhkan air dalam jumlah besar untuk mendinginkan pusat data.

“AI itu sangat rakus. Padahal sejauh ini yang baru kita lihat hanyalah potensinya. AI belum menyembuhkan kanker, belum menulis novel terlaris dunia, dan belum membangun perusahaan Fortune 500,” katanya.

Meski demikian, Stella menegaskan AI bukanlah teknologi yang harus ditakuti atau dihindari. Sebaliknya, mahasiswa harus memanfaatkannya secara bijak sebagai alat pendukung pembelajaran tanpa kehilangan kemampuan berpikir kritis dan kreativitas.

“Tugas kita bukan menghentikan perkembangan AI, karena itu tidak mungkin. Yang bisa kita lakukan adalah mengembangkan diri agar memiliki kemampuan yang tidak mudah tergantikan oleh AI. Perkembangan AI mungkin tidak bisa kita atur, tetapi perkembangan diri kita sendiri masih bisa kita atur. Itulah yang harus dilakukan selama kuliah,” pungkasnya.

Editor : Frizky Wibisono

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network