KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Waktu telah membawa Prof. Dr. Ade Maman Suherman, S.H., M.Sc. melangkah sangat jauh dari masa kecilnya di sebuah desa kecil di Kabupaten Kuningan. Bocah yang dulu setiap hari menyusuri pematang sawah menuju sekolah dengan buku yang dibungkus plastik agar tak basah oleh embun itu, kini berdiri di barisan akademisi terdepan sebagai Rektor Universitas Singaperbangsa Karawang (UNSIKA).
Di usianya yang genap 59 tahun pada 11 Juli 2026, Ade Maman tak banyak berbicara tentang jabatan yang telah diraih. Baginya, usia hanyalah penanda perjalanan. Yang lebih penting adalah bagaimana setiap langkah yang telah dilalui mampu menjadi bekal untuk terus memberi manfaat bagi dunia pendidikan.
"Kalau saya melihat perjalanan hidup ini, semuanya seperti rangkaian proses yang Allah siapkan. Saya tidak pernah mengejar jabatan. Saya hanya ingin terus belajar, terus mengajar, dan bisa memberikan manfaat bagi banyak orang," ujar Ade Maman kepada iNEWSKarawang.id, Sabtu (12/7/2026).
Lahir pada 11 Juli 1967 di Desa Jagara, Kecamatan Darma, Kabupaten Kuningan, Ade merupakan anak keempat dari sebelas bersaudara. Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Ayahnya berprofesi sebagai guru sekolah dasar, sementara sang ibu adalah ibu rumah tangga yang tak pernah lelah menanamkan pentingnya ilmu pengetahuan kepada anak-anaknya.
Pesan sang ibu menjadi bekal yang terus diingatnya hingga kini.
"Ibu saya selalu bilang, harta kita itu ilmu. Kalau kamu pintar, ilmu akan membawamu ke mana saja. Kalimat itu yang terus saya pegang sampai sekarang," kenangnya.
Masa kecil Ade jauh berbeda dengan anak-anak di kota pada umumnya. Pagi hari ia berangkat sekolah melewati pematang sawah, sementara sore harinya dihabiskan bermain bersama teman-temannya. Waduk Darma menjadi tempat yang paling sering dikunjunginya untuk berenang, menjala ikan, hingga memancing.
"Seru berenang di Waduk Darma, sambil mancing, jala ikan. Belum pulang kalau belum diomelin," ujarnya sambil tersenyum mengenang masa kecilnya.
Di balik masa kecil yang penuh kesederhanaan itu, tumbuh mimpi besar untuk mengubah masa depan melalui pendidikan. Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah di Kuningan, Ade merantau ke Purwokerto untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed). Di kampus itulah kecintaannya terhadap dunia akademik semakin tumbuh.
Semasa menjadi mahasiswa, Ade aktif mengikuti berbagai organisasi kemahasiswaan. Pengalaman itu membentuk cara pandangnya tentang kepemimpinan sekaligus memperkuat keinginannya untuk menjadi seorang dosen.
Usai menyelesaikan pendidikan sarjana pada 1990, Ade memulai pengabdian sebagai dosen di almamaternya. Menurutnya, menjadi dosen bukan sekadar profesi, tetapi panggilan hidup untuk mencetak generasi yang mampu membawa perubahan.
"Menjadi dosen adalah pilihan hidup saya. Kampus bukan hanya tempat mentransfer ilmu, tetapi tempat membentuk karakter, cara berpikir, dan masa depan mahasiswa," tutur Ade.
Semangat belajar yang tak pernah padam membawanya melanjutkan pendidikan magister di Rijks Universiteit Groningen, Belanda. Kesempatan belajar di luar negeri semakin memperluas cara pandangnya terhadap perkembangan hukum dan pendidikan tinggi.
Sepulang dari Belanda, Ade kembali mengabdikan diri di Universitas Jenderal Soedirman. Ia kemudian melanjutkan studi doktor di Fakultas Hukum Universitas Indonesia hingga berhasil meraih gelar doktor.
Perjalanan akademiknya terus berkembang. Berbagai amanah pernah diembannya, mulai dari Ketua Jurusan Hukum Internasional, Ketua Program Magister Ilmu Hukum, Koordinator Program Doktor, hingga dipercaya menjabat Dekan Fakultas Hukum Universitas Jenderal Soedirman periode 2017–2021. Ia juga aktif menjadi pembicara dalam berbagai forum ilmiah, baik di dalam maupun luar negeri, serta tergabung dalam berbagai organisasi profesi.
Bagi Ade, setiap jabatan yang diemban bukanlah tujuan akhir, melainkan kesempatan untuk memberikan manfaat yang lebih luas.
"Saya percaya belajar itu proses seumur hidup. Semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar pula tanggung jawabnya untuk berbagi," jelas Ade.
Babak baru perjalanan hidupnya dimulai ketika dipercaya memimpin Universitas Singaperbangsa Karawang. Dalam pemilihan Rektor Unsika periode 2023–2027, Ade memperoleh amanah untuk memimpin perguruan tinggi negeri kebanggaan masyarakat Karawang.
Di bawah kepemimpinannya, Unsika terus didorong menjadi kampus yang unggul melalui penguatan pendidikan, riset, pengabdian kepada masyarakat, serta kolaborasi dengan dunia usaha dan dunia industri. Menurutnya, posisi Karawang sebagai salah satu kawasan industri terbesar di Indonesia merupakan peluang besar yang harus dimanfaatkan kampus untuk menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan global.
"Unsika harus menjadi kampus yang terus bertumbuh. Tidak hanya unggul dalam pendidikan, tetapi juga riset, inovasi, pengabdian kepada masyarakat, dan kolaborasi dengan dunia industri. Saya ingin lulusan Unsika mampu bersaing di mana pun mereka berada," tegasnya.
Di tengah kesibukannya sebagai rektor, Ade tetap menyempatkan diri berolahraga. Bermain tenis menjadi salah satu cara menjaga kebugaran sekaligus melepas penat dari rutinitas pekerjaan. Ia bahkan aktif dalam kepengurusan Asosiasi Tenis Profesor Indonesia.
Memasuki usia ke-59 tahun, Ade mengaku masih menyimpan banyak harapan. Baginya, perjalanan hidup dari Desa Jagara hingga menjadi rektor bukanlah akhir dari sebuah cerita, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar untuk membawa UNSIKA semakin unggul dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional.
"Kalau hari ini saya masih punya mimpi, mimpi itu bukan lagi tentang diri saya. Saya ingin melihat UNSIKA menjadi kampus yang semakin maju, semakin dipercaya masyarakat, dan mampu melahirkan lulusan yang memberi manfaat bagi bangsa. Itu yang ingin terus saya perjuangkan," ucapnya.
Bagi Prof. Ade Maman, perjalanan hidup telah mengajarkannya bahwa mimpi tak pernah mengenal batas tempat seseorang dilahirkan. Selama ada kemauan untuk belajar, bekerja keras, dan menjaga integritas, setiap langkah kecil akan membawa seseorang menuju tujuan yang lebih besar. Dari seorang anak desa di Kuningan, ia kini mengemban amanah memimpin Unsika, sembari terus menjaga mimpi agar kampus itu tumbuh menjadi kebanggaan masyarakat Karawang dan Indonesia.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
