Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Dapat Remisi Lebaran, 3 Narapidana Lapas Karawang Langsung Bebas
Advertisement . Scroll to see content

Tak Ingin Kacapi Jeletot Punah, Abah Ocim Abrag Tetap Berkarya di Usia Senja

Senin, 21 September 2026 | 22:41 WIB
  • author Gelar Maulana Media
Tak Ingin Kacapi Jeletot Punah, Abah Ocim Abrag Tetap Berkarya di Usia Senja
Abah Ocim Abrag, 66 tahun, tetap berkarya melestarikan Kacapi Jeletot di Karawang dan berharap ada generasi penerus. Foto : Istimewa

KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Usianya telah 66 tahun, tetapi Ocim Abrag masih setia memetik kacapi. Dari rumah sederhananya di Desa Lemahmukti, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Karawang, Jawa Barat, ia terus menjaga kesenian Kacapi Jeletot yang telah digelutinya sejak berusia 10 tahun.

Jumat (18/9/2026) siang, Ocim duduk santai di lincak bambu di depan rumah bersama istrinya, Karsih. Tak lama kemudian, ia mengajak sang istri masuk ke ruang tamu.

Sebuah kelasa digelar. Ocim mengambil kacapi yang telah menemaninya selama puluhan tahun. Jemarinya kemudian mulai memetik senar alat musik yang ia sebut sebagai siter tersebut.

Petikan kacapi berpadu dengan suara Karsih yang ikut nyinden. Alunan musik karawangan pun terdengar dari ruang tamu rumah mereka.

“Kami kerap tektokan. Kadang sejam, kadang dua jam,” ujar Ocim.

Bagi Ocim, kacapi bukan sekadar alat musik. Alat musik tersebut telah menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sejak masih kanak-kanak.

Ocim mulai belajar memetik kacapi ketika berusia 10 tahun. Ia berguru kepada kerabatnya dan terus mengasah kemampuan dengan mengikuti berbagai pertunjukan dari satu panggung ke panggung lainnya.

Kala itu, bayaran manggung yang diterimanya sekitar Rp75 ribu. Meski tidak besar, penghasilan tersebut cukup untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Upah manggungnya dulu sekitar Rp75.000, cukuplah untuk membeli kebutuhan sehari-hari,” katanya.

Perjalanan Ocim sebagai seniman kemudian berkembang. Pada 1992, ia mulai dikenal dengan nama Ocim Abrag dan mendirikan grup Kacapi Jaipong Kawat Panglipur Manah.

Grup tersebut membawakan berbagai jenis musik dan lagu, termasuk jaipongan. Jumlah personelnya bisa mencapai belasan orang, tergantung permintaan penanggap.

Bagi Ocim, kacapi menjadi bagian utama dalam setiap pertunjukan. Alat musik tersebut dibelinya dari Padalarang dan masih dirawat hingga sekarang meski beberapa kali harus diperbaiki.

Dalam pertunjukan, kacapi dapat dipadukan dengan kendang, kecrek, rebab hingga perangkat pengeras suara.

Sejumlah lagu yang biasa dibawakan antara lain Kidung, Wangsit Siliwangi, Geboy serta berbagai tembang karawangan lainnya.

Perjalanan Kawat Panglipur Manah juga sempat menorehkan prestasi. Sekitar 2013, grup tersebut berhasil meraih juara dalam sebuah pentas di Garut.

“Sekira tahun 2013, Kacapi Jaipong Kawat Panglipur Manah menyabet juara saat pentas di Garut,” ujar Ocim.

Puluhan tahun berlalu, Ocim masih bertahan di dunia kesenian. Ia tetap belajar, terutama ketika harus menguasai lagu-lagu baru.

Namun, panggilan manggung kini tak lagi seramai dahulu.

Saat masih muda, Ocim sempat berdagang sembari menjalani aktivitas sebagai seniman. Ketika panggilan manggung semakin banyak, ia memilih meninggalkan pekerjaan lainnya dan fokus menekuni kesenian.

“Waktu muda sembari dagang. Saat ini nunggu panggilan,” tuturnya.

Di balik keteguhannya mempertahankan Kacapi Jeletot, Ocim menyimpan kekhawatiran tentang keberlanjutan kesenian tersebut. Hingga kini, belum ada murid yang benar-benar meneruskan keahliannya.

Padahal, ia berharap ada generasi muda yang mau belajar dan kelak meneruskan tradisi memetik kacapi.

“Pernah ada mahasiswa yang belajar, tapi cuma sekitar dua bulan,” katanya.

Menurut Ocim, keberadaan generasi penerus menjadi penting agar kesenian yang telah ia tekuni sejak kecil tidak berhenti pada dirinya.

“Saya ingin ada anak muda yang mau belajar. Jangan sampai nanti kacapi ini tidak ada yang meneruskan,” ujarnya.

Kini, harapan terbesar Ocim bukanlah kemewahan. Ia hanya ingin Kacapi Jeletot tetap hidup dan para senimannya dapat menjalani kehidupan dengan lebih sejahtera.

Untuk dirinya sendiri, ia memiliki keinginan sederhana, yakni mempunyai perangkat sound system sendiri agar aktivitas bermusik bersama sang istri di rumah bisa terdengar lebih menggema.

Meski dengan keterbatasan, Ocim tetap memetik kacapi. Baginya, menjaga kesenian yang telah menjadi bagian dari hidup selama puluhan tahun merupakan bentuk pengabdian.

“Selama masih bisa memetik kacapi, saya akan tetap menjalaninya. Ini sudah menjadi bagian dari hidup saya,” pungkas Ocim.

Editor: Frizky Wibisono

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut