get app
inews
Aa Text
Read Next : Dapat Remisi Lebaran, 3 Narapidana Lapas Karawang Langsung Bebas

Dua Pekan Berlalu, Teror Kutu Beras Masih Menghantui Warga Tunggakjati Karawang

Senin, 20 Juli 2026 | 19:26 WIB
header img
Plastik berisi Kutu beras beras yang dikumpulkan warga. Foto : iNewskarawang.id/Iqbal Maulana Bahtiar

KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Sore itu, Rabu (8/7/2026), pekerjaan saya sebenarnya sudah selesai. Setelah seharian berburu berita, saya memilih beristirahat sejenak di tempat biasa melepas penat di area Kompleks Pemda Karawang.

Di tengah menikmati waktu senggang, tiba-tiba pikiran saya melayang pada satu peristiwa yang beberapa hari sebelumnya sempat menyita perhatian yakni, teror kutu beras di Kelurahan Tunggakjati.

Saya pun bertanya dalam hati, "bagaimana kabar mereka sekarang? Apakah kutu-kutu itu sudah benar-benar hilang?"

Pertanyaan itu saya lontarkan kepada seorang rekan kerja. Tanpa banyak berdiskusi, kami sepakat berangkat. Tidak ada agenda liputan. Niat kami sederhana, hanya ingin menjenguk warga yang sempat kami temui saat pemberitaan itu viral.

Namun sore itu, kami justru menemukan cerita yang lebih panjang dari yang kami bayangkan.

Begitu memasuki gang kecil di samping kawasan Pergudangan Genesis, Kelurahan Tunggakjati, Kecamatan Karawang Barat, beberapa warga yang sedang duduk di depan rumah langsung menoleh ke arah kami.

Mereka tampak sedikit heran. Mungkin mereka tidak menyangka kami datang lagi, setelah pertemuan pertama yang membuat persoalan kutu beras di lingkungan mereka menjadi perhatian banyak orang.

Saya menyapa mereka. Menanyakan kabar. Tak butuh waktu lama, suasana kembali hangat. Kami dipersilakan duduk. Beberapa gelas air mineral dibuka, sebatang rokok dinyalakan, dan obrolan menjelang malam pun mengalir tanpa terasa.

Saya memang sengaja datang menjelang magrib. Menurut warga, itulah waktu ketika “tamu-tamu kecil” itu mulai keluar. Dan benar saja. Saat cahaya matahari mulai meredup, beberapa serangga kecil tampak beterbangan di sekitar halaman rumah. 

Tidak sebanyak ketika pertama kali kami datang, tetapi cukup untuk membuktikan bahwa persoalan itu belum benar-benar selesai.

“Masih ada, Mas. Sampai sekarang belum hilang,” kata seorang warga sambil memperlihatkan plastik bening kecil berisi mungkin hampir ratusan kutu beras yang berhasil ia kumpulkan.

Plastik kecil itu seolah menjadi bukti bahwa keluhan mereka bukan sekadar cerita.

Dari obrolan itu, warga menceritakan bahwa gangguan tersebut sudah mereka alami sekitar enam bulan terakhir. Mereka menduga kutu berasal dari stok beras yang telah lama tersimpan di gudang.

Seorang warga yang mengaku pernah bekerja di gudang bahkan menyebut masih ada beras yang belum dikeluarkan karena disebut sebagai stok untuk kebutuhan ekspor.

Dugaan itu tentu masih memerlukan konfirmasi dari pihak terkait. Namun bagi warga, yang paling mereka rasakan adalah dampaknya.

Namun, hal itu mengingatkan saya pada kunjungan Menteri Pertanian RI Andi Amran Sulaiman ke gudang penyimpanan beras di kawasan Pergudangan Genesis pada April 2026 lalu.

Saat itu, Menteri memastikan stok beras di gudang sesuai laporan pemerintah dan menyebut gudang berkapasitas 102 ribu ton tersebut menjadi bagian penting dari cadangan beras nasional yang saat itu mencapai rekor 5,198 juta ton.

Dalam kesempatan yang sama, pemerintah juga mengumumkan dimulainya ekspor beras nasional sebanyak 200 ribu ton dengan Karawang sebagai titik awal pengiriman.

Ironisnya, beberapa bulan setelah kunjungan itu, warga yang tinggal berdampingan dengan gudang justru menghadapi persoalan yang sama sekali berbeda.

Kutu-kutu itu masuk ke rumah, menempel di pakaian, membuat kulit gatal, bahkan menurut pengakuan mereka, ada yang sampai masuk ke mata dan telinga.

Bukan mengganggu saat beraktivitas saja, saat tidur pun kutu-kutu beras itu masih berterbangan ketubuh mereka. Bahkan tidur mereka tidak lelap karena harus memenangkan anak mereka yang menangis karena kutu menempel ditubuhnya.

“ya tetep ada, tapi lebih sedikit enggak kaya awal. Watir kalau tidur takut masuk ke kuping anak, harus pakai kelambu kalau mau tidur. Tapi tetep aja ada yang nempel ke anak,,” ujar seorang ibu sambil menunjukkan rekaman video di telepon genggamnya. Dalam video itu tampak kutu-kutu kecil hinggap di tubuh salah seorang warga.

Di tengah obrolan, tawa sempat pecah. Sambil membawa plastik berisi kutu, mereka menceritakan kepada saya ketika Bulog melakukan fumigasi beberapa waktu lalu.

“Bukan cuma kutunya yang keluar, kecoa, lipan sampai ular juga keluar dari selokan,” kata salah seorang warga, disambut gelak tawa yang lain.

Suasana yang semula serius berubah cair. Meski begitu, tawa itu terasa seperti cara mereka menghibur diri setelah berbulan-bulan hidup berdampingan dengan persoalan tersebut.

Warga mengakui pihak Bulog Karawang telah beberapa kali melakukan fumigasi. Mereka juga mengapresiasi langkah tersebut.

Hasilnya memang mulai terlihat. Populasi kutu berkurang. Namun belum hilang. Setiap sore, serangga-serangga kecil itu masih muncul.

Obrolan kembali berubah serius ketika saya menyinggung bagaimana reaksi setelah pemberitaan mereka viral.

Beberapa warga mengaku sempat mendapat tekanan karena berani menyampaikan keluhan kepada media. Mereka enggan menjelaskan lebih jauh siapa pihak yang dimaksud.

Namun itu sedikit membuktikan bahwa ada yang terganggu dan minim empati kepada warga yang terdampak langsung kutu beras itu.

Saat berbincang dengan kami pun mereka masih menahan diri untuk tidak menyampaikan semua keluhan mereka. Hal itu sangat terasa karena beberapa percakapan kami terpotong dengan kalimat "udah, takut ah, nanti viral lagi,"

Menjelang kami berpamitan, seorang warga menyampaikan harapan yang terdengar sangat sederhana.

“Kami cuma ingin gudangnya dibersihkan. Kalau memang ada beras lama yang jadi penyebabnya, ya segera ditangani. Biar kami bisa tinggal di sini dengan tenang,” ujarnya.

Kalimat itu terus teringat sepanjang perjalanan pulang.

Seminggu kemudian, resah dalam hati saya belum hilang. Saya kembali menghubungi salah seorang warga melalui telepon. Saya hanya ingin memastikan keadaan mereka. 

Dan, Jawabannya masih sama.

“Kutunya masih ada, Mas. Masih banyak," ujar warga saat dihubungi pada Jumat, (17/7/2026), lalu. Namun kali ini ada sedikit kabar baik.

Menurutnya, pihak Bulog telah memberikan kompensasi untuk mengganti biaya pengobatan bagi warga yang terdampak. Sebuah bentuk tanggung jawab yang mereka apresiasi.

Meski demikian, bagi warga Kelurahan Tunggakjati, persoalan ini belum benar-benar berakhir

Sebab setiap senja tiba, mereka masih menunggu dengan perasaan yang sama, berharap kutu-kutu itu tak lagi datang menghampiri rumah mereka.

Editor : Frizky Wibisono

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut