Pilih Burung Hantu dan Belerang, Gapoktan Mekarjaya Karawang Ingatkan Bahaya Jebakan Tikus Listrik
KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Penggunaan jebakan tikus listrik di areal persawahan masih menjadi perbincangan di kalangan petani. Namun, di Desa Kampungsawah, Kecamatan Jayakerta, Kabupaten Karawang, para petani justru sepakat tidak menggunakan metode tersebut karena dinilai memiliki risiko yang jauh lebih besar dibandingkan manfaatnya.
Ketua Gapoktan Mekarjaya Desa Kampungsawah, Arip Munawir, mengatakan pihaknya sejak awal melarang petani memasang jebakan tikus listrik di area persawahan.
“Kalau di Desa Kampungsawah tidak ada yang pakai jebakan tikus listrik, karena memang kita larang. Risikonya lebih besar dibanding pencegahan hama tikusnya,” kata Arip kepada iNEWSKarawang.id, Jumat,(3/7/2026).
Menurut Arip, petani di wilayahnya lebih mengandalkan cara-cara yang dinilai lebih aman, seperti penggunaan burung hantu, pengasapan belerang, serta racun tikus.
Meski begitu, ia mengakui efektivitas racun tikus kini mulai menurun karena banyak tikus yang sudah kebal terhadap bahan kimia tersebut.
“Untuk racun tikus sekarang sudah tidak sebaik dulu karena tikus sudah mulai resisten atau kebal terhadap racun,” ujarnya.
Arip menjelaskan, dari sisi pencegahan serangan tikus, keberadaan jebakan listrik sebenarnya dapat dibandingkan dengan burung hantu. Namun, menurutnya burung hantu jauh lebih aman sekaligus mampu menjadi pengendali hama secara alami.
“Kalau untuk penjagaan, jebakan listrik bisa dibandingkan dengan burung hantu. Walaupun tingkat membunuh tikus jauh lebih tinggi pada jebakan listrik, tetapi untuk menjaga sawah dari serangan tikus efektivitasnya sama,” katanya.
Ia mengungkapkan seekor burung hantu mampu memangsa sekitar tiga hingga sepuluh ekor tikus dalam satu malam saat lahan sedang tidak ditanami padi. Sementara ketika musim tanam, jumlah tangkapan berkisar satu hingga tiga ekor per malam karena tikus lebih banyak bersembunyi di rumpun padi.
Selain burung hantu, Arip menilai pengasapan menggunakan belerang menjadi metode yang paling efektif untuk menekan populasi tikus.
“Pengasapan belerang lebih baik dibandingkan jebakan tikus listrik karena selain membunuh tikus dewasa, juga membunuh anakannya dan membuat tikus mencari sarang baru,” jelasnya.
Bahkan, pada lahan dengan populasi tikus yang tinggi, pengasapan belerang disebut mampu membunuh puluhan hingga ratusan ekor tikus dalam sehari.
Meski biaya awal memasang jebakan listrik hanya dikeluarkan sekali, Arip menilai membangun rumah burung hantu jauh lebih efisien dalam jangka panjang.
“Kebanyakan petani ingin efisien dengan memasang jebakan listrik yang mahal tapi modalnya sekali. Padahal kalau mau efisien tinggal bangun rumah burung hantu saja. Modal sekali dan bisa dipakai beberapa musim, apalagi burung hantu sudah tersedia di alam,” tuturnya.
Ia juga mengungkapkan pernah ada petani di Desa Kampungsawah yang hendak memasang jebakan listrik. Namun, rencana tersebut langsung dibatalkan setelah mendapat teguran dari petani lainnya karena dikhawatirkan membahayakan keselamatan masyarakat.
“Pernah ada yang mau pasang, tapi langsung ditegur sesama petani dan akhirnya tidak jadi memasang karena ada rasa khawatir,” katanya.
Menurut Arip, ancaman jebakan tikus listrik bukan hanya bagi pemasangnya, tetapi juga bagi warga sekitar yang setiap hari beraktivitas di sekitar area persawahan.
“Bukan cuma pemasangnya, warga lain juga bisa jadi korban. Kehidupan di kampung dekat sawah, jadi warga pasti sering beraktivitas di sekitar sawah,” tegasnya.
Arip menambahkan, apabila petani tetap ingin menggunakan jebakan tikus listrik, maka sebaiknya tetap dibarengi dengan pengasapan belerang agar populasi tikus dapat ditekan secara maksimal.
Namun, ia menegaskan pendekatan yang lebih aman tetap harus menjadi prioritas demi menghindari jatuhnya korban jiwa di lingkungan persawahan.
“Kalau menurut saya, keselamatan manusia harus menjadi prioritas. Jangan sampai hanya karena ingin membasmi tikus, justru ada warga yang menjadi korban. Masih banyak cara yang lebih aman dan tetap efektif untuk mengendalikan hama tikus di sawah,” pungkas Arip.
Editor : Frizky Wibisono