KARAWANG, iNEWSKarawang.id — Angka stunting di Kecamatan Karawang Barat, Kabupaten Karawang, turun dari 207 kasus pada Maret 2026 menjadi 167 kasus pada September 2026.
Penurunan tersebut terjadi setelah pemerintah kecamatan bersama puskesmas, kelurahan, kader Posyandu, PKK dan sejumlah unsur lainnya memperkuat intervensi terhadap balita yang mengalami masalah gizi.
Camat Karawang Barat Agus Somantri mengatakan salah satu intervensi yang dilakukan yakni pemberian makanan tambahan (PMT), termasuk telur, kepada balita sasaran.
“Alhamdulillah, dari asalnya bulan 3 itu jumlahnya 207 di kita, jadi 167 selama 6 bulan,” kata Agus, Senin (28/9/2026).
Menurut Agus, penanganan stunting dilakukan secara bersama melalui Tim Percepatan Pencegahan dan Penurunan Stunting (TP3S) tingkat kecamatan, puskesmas, pemerintah kelurahan, kader Posyandu, kader PKK hingga petugas keluarga berencana.
“Penanganan ini tidak bisa dilakukan sendiri. Semua unsur ikut bergerak, mulai dari kecamatan, puskesmas, kelurahan sampai para kader di lapangan,” ujarnya.
Agus menyebut Kelurahan Karangpawitan masih menjadi wilayah dengan jumlah kasus stunting terbanyak di Kecamatan Karawang Barat. Salah satu faktornya adalah jumlah penduduk Karangpawitan yang cukup besar.
Meski demikian, kasus stunting di wilayah tersebut juga mengalami penurunan. Pemerintah bersama puskesmas melakukan pemantauan dan intervensi secara langsung melalui koordinasi TP3S.
“Kita terus lakukan pemantauan di lapangan, terutama terhadap balita yang memang membutuhkan intervensi. Harapannya kasusnya terus turun,” katanya.
Agus berharap kolaborasi lintas sektor dapat terus berjalan hingga akhir 2026 sehingga jumlah kasus stunting di Karawang Barat kembali berkurang.
“Jadi kita semua kerja bareng. Kata Pak Bupati, kita adalah super tim, bukan superman,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala UPTD Puskesmas Karawang Kota, Asep Saepul Bahri, mengatakan penanganan stunting di Karangpawitan telah dilakukan sejak 2022 dengan konsep pentaheliks yang melibatkan berbagai unsur.
Salah satu pusat intervensi berada di Pos Gizi Graha Puspita. Pos tersebut melayani balita dengan berbagai masalah gizi, mulai dari stunting, gizi kurang hingga gizi buruk.
“Awal kita ditemukan di sini hampir 140. Nah, sekarang itu tinggal 60,” kata Asep.
Di Pos Gizi Graha Puspita, balita mendapatkan makanan tambahan sekaligus edukasi kepada orang tua. Kegiatan tersebut mencakup pengenalan bahan makanan untuk meningkatkan status gizi hingga cara mengolah makanan yang tepat.
“Orang tua tidak hanya diberikan makanan tambahan, tetapi juga diberikan edukasi supaya mengetahui makanan yang baik untuk anak dan bagaimana cara mengolahnya,” ujarnya.
Puskesmas Karawang Kota juga membentuk tim home visit yang melibatkan petugas dan tenaga kesehatan, termasuk kepala puskesmas. Tim tersebut mendatangi rumah keluarga yang memiliki balita dengan masalah gizi.
Kunjungan dilakukan secara rutin setiap bulan untuk melihat kondisi balita sekaligus lingkungan tempat tinggalnya.
Asep mengatakan kunjungan rumah penting untuk mengetahui faktor yang menyebabkan balita mengalami masalah gizi.
“Dengan home visit, kami bisa melihat langsung kondisi anak dan lingkungan keluarganya. Dari situ kami bisa berdiskusi dengan keluarga untuk mengetahui masalahnya dan menentukan intervensi yang dibutuhkan,” katanya.
Selain kunjungan rumah, pertumbuhan dan perkembangan balita dipantau secara berkala oleh petugas puskesmas. Intervensi juga tidak hanya diberikan kepada anak yang sudah mengalami stunting, tetapi kepada balita dengan gizi kurang dan gizi buruk agar tidak berkembang menjadi stunting.
Asep meminta keluarga penerima PMT memastikan makanan yang diberikan benar-benar dikonsumsi oleh balita sasaran.
“Yang paling penting, makanan tambahan yang diberikan benar-benar dikonsumsi oleh anak. Orang tua juga harus aktif membawa anak untuk pemantauan tumbuh kembang di puskesmas,” pungkasnya.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
