KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten Karawang meresmikan panggung budaya “Bale Asri” di kompleks Disdikbud Karawang, Selasa (16/6/2026). Peresmian tersebut dirangkaikan dengan pagelaran wayang golek, ruwatan panggung, serta pelatihan bagi seniman dan budayawan.
Kegiatan yang bekerja sama dengan Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi) Karawang itu menjadi langkah nyata Disdikbud dalam menyediakan ruang ekspresi bagi pelaku seni sekaligus memperkuat regenerasi kesenian tradisional di Kabupaten Karawang.
Kepala Disdikbud Karawang, Wawan Setiawan Natakusumah, mengatakan Bale Asri dibangun untuk menjawab kebutuhan seniman dan budayawan akan ruang pertunjukan yang representatif.
“Pak Kabid Kebudayaan meyakinkan saya bahwa penting mengakomodasi kreativitas masyarakat dan budayawan. Karena itu beliau meminta agar ada panggung budaya, dan Alhamdulillah hari ini berhasil kita wujudkan,” kata Wawan.
Ia berharap Bale Asri dapat menjadi pusat aktivitas seni budaya yang mampu menghidupkan berbagai komunitas kreatif di Karawang.
“Mudah-mudahan Bale Asri betul-betul menjadi sarana pengembangan komunitas, khususnya seni di Karawang,” ujarnya.
Menurut Wawan, pengembangan kawasan Bale Asri akan terus dilakukan secara bertahap agar semakin nyaman dan representatif bagi masyarakat.
“Nanti kita akan percantik lagi. Ini akan dimanfaatkan sebagai sarana komunitas. Kita ingin menata semuanya pelan-pelan secara bertahap,” katanya.
Selain membangun fasilitas budaya, Disdikbud Karawang juga mulai mengarahkan pengembangan kesenian ke lingkungan pendidikan sebagai bagian dari strategi regenerasi pelaku seni.
“Ke depan konsentrasi pengembangan kesenian akan lebih banyak menyasar siswa. Kalau dipersentasekan, sekitar 60 persen pengembangan kesenian di sekolah dan 40 persen menjaga harmonisasi komunitas yang sudah ada,” jelas Wawan.
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Karawang, Waya Karmila, menjelaskan bahwa pagelaran wayang golek merupakan rangkaian dari pendidikan dan pelatihan seniman serta budayawan yang telah digelar sebelumnya.
“Kemarin kami menggelar diklat pedalangan dengan menghadirkan narasumber dari kalangan akademisi maupun praktisi dalang Jawa Barat. Hari ini merupakan lanjutan berupa pelatihan manajemen seni dan budaya serta praktik mendalang yang ditampilkan para dalang muda,” kata Waya.
Sebanyak 53 dalang, 10 nayaga, dan 5 sinden mengikuti pelatihan yang bertujuan meningkatkan kemampuan sekaligus memperkuat jejaring pelaku seni tradisional di Karawang.
Menurut Waya, regenerasi dalang di Karawang berjalan cukup baik. Saat ini terdapat sekitar 83 dalang yang terdata, belum termasuk dalang anak dan remaja yang terus bermunculan.
“Regenerasi dalang di Karawang cukup baik. Banyak anak-anak yang mulai tertarik belajar mendalang sejak usia dini. Kami juga memiliki sekolah pedalangan yang terus melakukan pembinaan,” ujarnya.
Meski demikian, tantangan terbesar saat ini bukan lagi mencetak dalang baru, melainkan menyediakan ruang tampil dan memperluas apresiasi masyarakat terhadap seni pedalangan.
“Yang sulit sekarang bukan menciptakan dalangnya, tetapi bagaimana mereka memiliki kesempatan tampil. Karena itu kami sedang menyiapkan program dalang masuk sekolah atau semacam Cepot Go To School agar anak-anak mengenal wayang sejak dini,” jelasnya.
Rangkaian kegiatan turut dimeriahkan sejumlah seniman dan budayawan, seperti Mang Manyin, Wa Doris, Ugih Meta Fisika, serta menghadirkan dalang Jawa Barat, Dadan Sunandar, sebagai bintang tamu.
Peresmian Bale Asri menjadi simbol komitmen Disdikbud Karawang dalam menjaga keberlangsungan seni budaya daerah melalui penyediaan ruang kreatif, pembinaan komunitas, dan penguatan regenerasi seniman sejak usia sekolah.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
