Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Dapat Remisi Lebaran, 3 Narapidana Lapas Karawang Langsung Bebas
Advertisement . Scroll to see content

Cegah Komplikasi Thalasemia Mayor, PMI Karawang Ingatkan Pentingnya Transfusi Rutin

Rabu, 14 Oktober 2026 | 22:02 WIB
  • author Nurul Rahma Amalia
Cegah Komplikasi Thalasemia Mayor, PMI Karawang Ingatkan Pentingnya Transfusi Rutin
PMI Karawang mengingatkan penderita thalasemia mayor membutuhkan pemantauan hemoglobin dan transfusi darah rutin untuk mencegah anemia berat serta komplikasi. Foto : Istimewa

KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Kepala Unit Transfusi Darah (UTD) PMI Karawang, dr. Euis Nuraeni, mengingatkan thalasemia mayor dapat mengancam jiwa jika tidak ditangani dengan tepat. Penderita penyakit genetik ini umumnya mengalami anemia berat dan membutuhkan transfusi darah secara rutin.

Euis menjelaskan, frekuensi transfusi bergantung pada kondisi pasien dan hasil pemeriksaan laboratorium. Pada penderita thalasemia mayor, transfusi umumnya dilakukan setiap dua hingga empat minggu sesuai kebutuhan medis.

“Untuk yang tipe mayor dengan kebutuhan transfusi, kontrolnya rutin. Biasanya untuk transfusi sering kali dua sampai empat minggu, tergantung kondisi dan hasil pemeriksaan laboratoriumnya,” kata Euis, Rabu (14/10/2026).

Dia mengatakan, pemantauan kadar hemoglobin penting untuk menentukan waktu transfusi. Pemeriksaan dilakukan secara berkala agar penurunan hemoglobin dapat diketahui dan ditangani sesuai kondisi pasien.

“Jadi pengidap thalasemia itu setiap seminggu atau dua minggu sekali harus kontrol karena memang harus diperhatikan kadar hemoglobinnya. Ketika terpantau turun hemoglobinnya, biasanya harus transfusi,” ujarnya.

Thalasemia merupakan kelainan genetik yang mengganggu produksi hemoglobin, yaitu protein dalam sel darah merah yang berfungsi membawa oksigen ke seluruh tubuh. Akibatnya, sel darah merah tidak bekerja secara optimal dan lebih cepat rusak.

Gejala thalasemia antara lain tubuh pucat, mudah lelah, lemas, sesak napas, dan detak jantung lebih cepat. Pada anak-anak, kondisi ini juga dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan.

Berdasarkan tingkat keparahannya, thalasemia dibagi menjadi tiga kategori, yakni mayor, intermedia, dan minor atau pembawa sifat. Penderita thalasemia mayor umumnya membutuhkan transfusi rutin, sedangkan penderita thalasemia minor biasanya tidak memerlukan transfusi berkala.

Jika tidak ditangani dengan baik, thalasemia berat dapat menyebabkan komplikasi, termasuk pembesaran hati dan limpa serta kerusakan organ tubuh.

Euis menjelaskan, pelayanan transfusi bagi pasien thalasemia dilakukan melalui rumah sakit sesuai kebutuhan medis. UTD PMI Karawang berperan menyediakan darah berdasarkan permintaan rumah sakit untuk memenuhi kebutuhan transfusi pasien.

“Pemenuhan kebutuhan darah dilakukan sesuai permintaan rumah sakit. Karena itu, ketersediaan darah menjadi bagian penting dalam mendukung pelayanan bagi pasien yang membutuhkan transfusi rutin,” jelasnya.

Meski penting, transfusi darah berulang juga memerlukan pengawasan medis. Transfusi yang dilakukan berkali-kali dapat menyebabkan penumpukan zat besi dalam tubuh, yang berisiko merusak organ seperti jantung dan hati.

Untuk mengurangi risiko tersebut, pasien dapat menjalani terapi kelasi besi sesuai rekomendasi dokter.

Euis menambahkan, thalasemia bukan penyakit menular, melainkan kelainan genetik yang dapat diwariskan dari orang tua kepada anak. Karena itu, pemeriksaan dan konseling genetik dapat membantu pasangan memahami risiko pewarisan thalasemia kepada keturunannya.

Dia mengimbau penderita thalasemia untuk menjalani pemeriksaan dan pengobatan secara teratur sesuai anjuran dokter agar kondisi kesehatan tetap terpantau dan risiko komplikasi dapat ditekan.

Editor: Frizky Wibisono

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut