Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Dapat Remisi Lebaran, 3 Narapidana Lapas Karawang Langsung Bebas
Advertisement . Scroll to see content

Cara Fadhil Razief Kasi Intel Baru Kejari Membaca Denyut Karawang

Selasa, 29 September 2026 | 16:43 WIB
  • author Frizky Wibisono
Cara Fadhil Razief Kasi Intel Baru Kejari Membaca Denyut Karawang
Kepala Seksi Intelijen Kejaksaan Negeri Karawang, Fadhil Razief. Foto : Istimewa

KARAWANG, iNEWSKarawang.id — Bagi Fadhil Razief, intelijen kejaksaan tidak boleh hanya bekerja ketika sebuah persoalan sudah menjadi sorotan. Justru sebelum sebuah isu membesar, intelijen harus sudah lebih dulu menangkap tanda-tandanya.

Itulah pola kerja yang ingin dibangun Fadhil setelah dipercaya menjadi Kepala Seksi Intelijen (Kasiintel) Kejaksaan Negeri Karawang.

Pria kelahiran Bandung, 14 Januari 1992, ini ingin menjadikan seksi intelijen sebagai corong radar Kejari Karawang dalam membaca perkembangan masyarakat.

Caranya tidak hanya mengandalkan laporan formal. Fadhil ingin informasi diperoleh dari berbagai sumber, mulai dari masyarakat, pemberitaan media, media sosial hingga hasil pemantauan langsung di lapangan.

"Intelijen harus peka dengan perkembangan informasi dan kondisi di masyarakat. Informasi itu bisa didapat dari masyarakat langsung dan isu di media sosial untuk mendapatkan informasi awalan," ujar Fadhil.

Medsos Jadi Radar Awal

Di era ketika sebuah persoalan bisa viral hanya dalam hitungan menit, Fadhil melihat media sosial sebagai sumber informasi awal yang tidak bisa diabaikan.

Ia sendiri aktif mengikuti perkembangan media sosial untuk menunjang pekerjaannya. Ke depan, pola tersebut juga akan didorong kepada jajaran intelijen Kejari Karawang.

Namun Fadhil tidak ingin informasi yang beredar di media sosial langsung dianggap sebagai fakta. Baginya, media sosial adalah pintu masuk, setelah informasi awal diperoleh, langkah berikutnya adalah melakukan analisis, verifikasi dan pendalaman.

"Polanya harus seimbang antara analisa data dan terjun ke lapangan untuk mencari informasi dan fakta," katanya.

Dengan pola tersebut, Fadhil ingin membangun kerja intelijen yang tidak berhenti pada apa yang ramai, tetapi bergerak lebih jauh untuk menjawab apa yang sebenarnya terjadi.

Tak Cukup Satu Sumber

Cara kerja tersebut juga diterapkan Fadhil dalam membangun tim. Ia ingin personel intelijen memiliki kepekaan terhadap berbagai perkembangan di masyarakat, tetapi tetap mengedepankan ketelitian.

Informasi dari satu pihak, menurutnya, tidak cukup untuk membuat sebuah kesimpulan. Karena itu, ia membuka ruang bagi seluruh anggota untuk memberikan masukan.

"Kalau kita menerima informasi dari satu sisi kan akan subjektif. Makanya saya menerima masukan dari semua unsur," tuturnya.

Fadhil menggambarkan gaya kepemimpinannya sebagai pribadi yang terbuka, tegas dan fleksibel. Ia ingin membangun tim yang solid dan kompak, namun tidak membatasi anggota untuk menyampaikan pandangan yang berbeda.

Bagi Fadhil, semakin banyak sudut pandang yang diperoleh, semakin besar peluang sebuah persoalan dapat dipetakan secara utuh.

Membaca Karawang yang Multikultur

Tantangan intelijen di Karawang juga memiliki karakter tersendiri. Karawang berkembang menjadi kawasan industri besar dengan masyarakat yang semakin multikultur. Namun di tengah perubahan tersebut, budaya Sunda tetap menjadi bagian kuat dari kehidupan masyarakat.

Menurut Fadhil, perubahan sosial tersebut harus menjadi bagian dari perhatian intelijen.

"Kita bukan orang politik, tapi kita harus tahu perkembangan sosial politik, ekonomi, budaya, dan tren baru di masyarakat," ujarnya.

Menurutnya, memahami perkembangan tersebut bukan berarti intelijen masuk ke dalam kepentingan politik.

Sebaliknya, hal itu diperlukan agar aparat penegak hukum memahami konteks sosial yang sedang terjadi di tengah masyarakat.

Intelijen Harus Menjadi Mata dan Telinga

Fadhil juga menempatkan bidang intelijen sebagai bagian penting dalam mendukung keseluruhan kinerja Kejari Karawang.

Informasi yang diperoleh intelijen dapat menjadi bahan bagi bidang lain dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

"Keberhasilan kantor tidak lepas dari peran intelijen. Teman-teman bidang lain pasti membutuhkan informasi dari kita," katanya.

Karena itu, ia ingin fungsi intelijen semakin maksimal, terutama dalam menjalankan intelijen yustisial terhadap persoalan yang menyangkut kepentingan atau hajat orang banyak.

Persoalan yang bersentuhan langsung dengan masyarakat menjadi perhatian khusus bagi Fadhil. Menurutnya, semakin besar dampak sebuah persoalan terhadap masyarakat, semakin penting bagi intelijen untuk memahami persoalan tersebut secara utuh.

Turun ke Lapangan, Bukan Hanya Pantau Layar

Meski menjadikan media sosial sebagai salah satu radar awal, Fadhil tidak ingin personelnya terjebak dalam informasi digital.

Layar ponsel hanya menjadi awal, namun pembuktian tetap membutuhkan data dan fakta. Karena itu, ia menekankan pentingnya keseimbangan antara kemampuan membaca informasi dengan keberanian turun ke lapangan.

Pola tersebut sekaligus menjadi gambaran gaya kerja Fadhil dengan cara mendengar, membaca, menganalisis, memverifikasi, kemudian bergerak.

Ia ingin timnya tidak hanya responsif ketika sebuah persoalan sudah muncul ke permukaan, tetapi mampu mendeteksi perkembangan sejak informasi tersebut masih menjadi gejala awal.

Membangun Intelijen yang Dekat dengan Masyarakat

Fadhil juga ingin komunikasi dengan masyarakat tetap terbuka. Kejari Karawang memiliki kanal informasi melalui pemberitaan media maupun media sosial. Masyarakat yang membutuhkan informasi atau ingin menyampaikan informasi terkait penegakan hukum juga dapat datang langsung ke Kejari Karawang atau menggunakan kanal yang tersedia.

Baginya, masyarakat bukan sekadar objek yang diamati intelijen. Masyarakat justru menjadi salah satu sumber informasi penting untuk memahami persoalan yang terjadi di lapangan.

Pengalaman Lintas Daerah Jadi Bekal

Gaya kerja tersebut tidak muncul begitu saja. Sebelum dipercaya menjadi Kasiintel Kejari Karawang, Fadhil telah menjalani penugasan di sejumlah wilayah.

Ia mengawali karier sebagai CPNS di Kalimantan Selatan. Setelah pendidikan jaksa pada 2017, ia ditugaskan di Bulukumba, Sulawesi Selatan, hingga 2019.

Kemudian selama sekitar empat tahun ia bertugas di Garut sebagai Kasubsi Pra Penuntutan Pidum hingga 2023.

Ia selanjutnya dipercaya sebagai Kasi Datun di Seram Bagian Barat, Maluku, selama satu tahun, sebelum melanjutkan tugas di Kalimantan hingga 2026.

Dari perjalanan tersebut, Fadhil mengaku banyak belajar mengenai toleransi, karakter masyarakat dan pentingnya kemampuan beradaptasi.

Kini pengalaman itu ia bawa ke Karawang. Sebagai Kasi Intelijen, ia ingin membangun pola kerja yang sederhana tetapi tajam, dimana informasi dicari dari banyak arah, data dianalisis, fakta diperiksa di lapangan, dan setiap persoalan dilihat dari berbagai sisi.

Bagi Fadhil, intelijen bukan sekadar mengetahui apa yang sedang terjadi, tetapi Intelijen harus mampu membaca apa yang sedang berkembang di masyarakat sebelum persoalan itu menjadi lebih besar.

Editor: Frizky Wibisono

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut