Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Berikut Hasil Semifinal Wilayah NBA 2022-2023
Advertisement . Scroll to see content

Fenomena Blue Fire Muncul di Kawah Manuk Papandayan, IABI Ingatkan Bahaya Gas Vulkanik

Minggu, 27 September 2026 | 17:54 WIB
  • author Binti Mufarida/Nurul Rahma Amalia
Fenomena Blue Fire Muncul di Kawah Manuk Papandayan, IABI Ingatkan Bahaya Gas Vulkanik
Blue fire muncul di Kawah Manuk Papandayan. IABI mengingatkan warga tidak mendekat karena gas vulkanik dapat membahayakan. Foto : Istimewa

JAKARTA, iNEWSKarawang.id — Fenomena blue fire atau api biru muncul di kawasan Kawah Manuk, Gunung Papandayan, pada 23-24 September 2026. Fenomena yang selama ini lebih dikenal di Kawah Ijen, Jawa Timur, tersebut menarik perhatian masyarakat.

Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI) Daryono mengingatkan masyarakat agar tidak mendekati lokasi kemunculan blue fire hanya untuk mengambil foto atau video.

Daryono menjelaskan, fenomena api biru berkaitan dengan kondisi lingkungan vulkanik aktif yang memiliki gas panas dan berpotensi membahayakan.

“Fenomena api biru (blue fire) yang baru-baru ini terlihat (23-24 September 2026) di kawasan Kawah Manuk Gunung Papandayan menarik perhatian masyarakat. Fenomena serupa paling terkenal di Kawah Ijen, Jawa Timur,” kata Daryono dalam keterangan tertulis, Minggu (27/9/2026).

Menurutnya, blue fire bukanlah lava yang berwarna biru. Api tersebut muncul ketika gas atau material yang kaya sulfur keluar melalui rekahan dan fumarola dalam temperatur tinggi, kemudian terbakar saat berinteraksi dengan oksigen.

Daryono menegaskan, kemunculan blue fire tidak serta-merta menjadi tanda Gunung Papandayan akan segera mengalami erupsi. Fenomena itu lebih berkaitan dengan proses pelepasan gas panas (degassing) serta aktivitas fumarola atau sistem hidrotermal.

“Namun di balik keindahannya, blue fire perlu dipahami sebagai pesan keselamatan, karena kemunculannya menunjukkan kita berada di lingkungan vulkanik aktif dengan gas panas yang dapat berbahaya,” ujarnya.

Dia menyebut peningkatan aktivitas gunung api tidak bisa ditentukan hanya dari kemunculan blue fire. Pemantauan harus mempertimbangkan sejumlah parameter, seperti kegempaan, deformasi, temperatur, serta perubahan komposisi dan fluks gas.

Masyarakat juga diminta mewaspadai gas vulkanik di sekitar fumarola. Gas sulfur dioksida (SO₂) dan hidrogen sulfida (H₂S) dapat bersifat beracun. Sementara karbon dioksida (CO₂) dalam konsentrasi tinggi dapat mengurangi ketersediaan oksigen.

“Karena itu, jangan menjadikan blue fire sebagai alasan untuk mendekati kawah demi foto atau video,” kata Daryono.

Dia meminta masyarakat tidak mendekati lubang fumarola atau rekahan yang mengeluarkan gas, serta tidak memasuki area yang telah dibatasi petugas. Pendaki juga diminta menghindari berlama-lama di cekungan atau lokasi rendah karena gas tertentu dapat terakumulasi di area tersebut.

Masyarakat yang mendaki Gunung Papandayan juga diminta segera menjauh jika mencium bau belerang yang sangat menyengat, mengalami mata atau tenggorokan perih, pusing, sesak napas, atau melihat kepulan gas bergerak ke arah mereka.

“Pesan terpentingnya sederhana: blue fire memang indah, tetapi jangan mengejarnya. Dalam mitigasi gunung api, keselamatan lebih penting daripada mendapatkan foto terbaik,” pungkasnya.

Daryono juga mengingatkan masyarakat untuk mematuhi zona aman dan rekomendasi resmi Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta pengelola kawasan.

Editor: Frizky Wibisono

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut