Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Dapat Remisi Lebaran, 3 Narapidana Lapas Karawang Langsung Bebas
Advertisement . Scroll to see content

Waspada, Perut Buncit Diintai Penyakit, Ini Tips Mengatasinya

Sabtu, 26 September 2026 | 11:36 WIB
  • author Nurul Rahma Amalia
Waspada, Perut Buncit Diintai Penyakit, Ini Tips Mengatasinya
Perut buncit bisa menjadi tanda penumpukan lemak viseral. Kenali risikonya dan atasi dengan pola makan sehat, olahraga, serta turunkan berat badan. (Foto : Istimewa).

KARAWANG, iNEWSKarawang.id — Perut buncit jangan dianggap sekadar mengganggu penampilan. Kondisi tersebut bisa menjadi tanda adanya penumpukan lemak viseral yang berada di sekitar organ dalam dan berisiko memicu berbagai penyakit metabolik.

Diabetes, hipertensi, kolesterol tinggi, penyakit jantung hingga perlemakan hati atau fatty liver merupakan sejumlah penyakit yang dapat berkaitan dengan penumpukan lemak di dalam tubuh.

Spesialis Penyakit Dalam Primaya Hospital, dr. Indra Alexandra, Sp.PD, MMRS, mengatakan masyarakat perlu mulai memperhatikan berat badan dan ukuran lingkar perut sebagai bagian dari upaya mencegah penyakit metabolik.

“Kalau untuk orang Asia, BMI di atas 25 itu perlu aware. Selain BMI, kita juga harus melihat lingkar perut, yaitu kurang dari 90 cm untuk laki-laki dan kurang dari 80 cm untuk perempuan,” ujar dr. Indra, Rabu (23/9/2026).

Menurutnya, semakin banyak lemak viseral yang menumpuk di sekitar organ dalam, semakin besar pula risiko terjadinya gangguan metabolik.

Karena itu, perut buncit perlu diatasi melalui perubahan gaya hidup. Langkah yang dapat dilakukan antara lain mengatur pola makan, membatasi konsumsi gula, meningkatkan aktivitas fisik dan menurunkan berat badan.

Salah satu cara yang dinilai cukup efektif adalah menurunkan berat badan secara bertahap. Penurunan berat badan sebesar 5 hingga 10 persen disebut dapat memberikan dampak terhadap penurunan risiko diabetes.

“Dengan kita menurunkan berat badan 5 sampai 10 persen, itu bisa mengurangi faktor risiko ke arah diabetes sampai 50 persen. Jadi lumayan signifikan untuk mengurangi risikonya,” tuturnya.

Selain menjaga pola makan, olahraga juga penting untuk membantu mengatasi perut buncit. Aktivitas fisik yang dilakukan perlu memiliki intensitas yang cukup, bukan sekadar aktivitas sehari-hari.

“Disebut olahraga tuh kalau nadi kita naik di atas 100, sampai berkeringat, artinya sudah ada exercise yang baik. Tapi kalau belum sampai berkeringat atau nadinya naik, itu bukan olahraga, hanya kegiatan sehari-hari saja,” jelasnya.

Dari sisi makanan, masyarakat dianjurkan membatasi konsumsi gula serta makanan tidak sehat yang dapat berkontribusi terhadap penumpukan lemak.

Perubahan gaya hidup juga perlu dilakukan secara konsisten. Evaluasi biasanya dilakukan selama tiga hingga enam bulan sebelum mempertimbangkan penggunaan obat, kecuali terdapat kondisi klinis yang membutuhkan penanganan lebih cepat.

Selain memperhatikan ukuran perut, masyarakat juga perlu mewaspadai sejumlah keluhan yang dapat menjadi tanda gangguan metabolik. Di antaranya mudah haus, mudah lapar dan sering buang air kecil pada malam hari.

Gangguan tidur seperti mengorok secara tiba-tiba atau obstructive sleep apnea (OSA), serta sering mengalami sakit kepala juga perlu diperiksakan.

Dr. Indra mengatakan gangguan metabolik tidak muncul dalam waktu singkat. Prosesnya dapat berlangsung selama bertahun-tahun sebelum akhirnya menimbulkan komplikasi.

“Penyakit metabolik ini tidak terjadi besok atau lusa, tapi butuh proses 5 sampai 20 tahun hingga komplikasinya muncul. Jadi kalau dari awal sudah ke-screening, kita bisa mencegah jangan sampai terjadi sindrom metabolik,” pungkasnya.

Editor: Frizky Wibisono

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut