KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman menyoroti praktik mafia beras premium serta isu defisit daging sapi nasional saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke Gudang Bulog Karawang, Kamis (23/4/2026).
Dalam sidak tersebut, Amran mengungkap adanya praktik kecurangan di pasaran, khususnya pada komoditas beras. Berdasarkan hasil pemeriksaan laboratorium, ditemukan beras dengan kualitas di bawah standar premium namun dijual dengan harga tinggi.
“Kalau premium itu maksimal 14 persen pecahan, tapi yang kita temukan sampai 59 persen. Harga beli sekitar Rp8.000, dijual Rp17.000. Ini jelas merugikan rakyat,” ujar Amran.
Ia menegaskan, praktik tersebut tidak sekadar melibatkan pedagang perantara, tetapi juga indikasi adanya mafia yang memainkan harga di pasar.
“Bukan hanya middleman, ada juga mafia di dalamnya. Ini yang kita bongkar,” tegasnya.
Selain menyoroti persoalan beras, Amran juga mengakui bahwa komoditas daging sapi nasional masih mengalami defisit sekitar 250 ribu ton. Meski demikian, pemerintah terus berupaya menjaga ketersediaan pasokan di tengah tingginya kebutuhan.
“Ini daging masih minus, kita akui. Tapi kita terus bekerja bagaimana mencukupi kebutuhan itu,” katanya.
Menurutnya, pemerintah tidak tinggal diam dan terus mengambil langkah untuk memperbaiki tata kelola distribusi serta meningkatkan produksi pangan nasional.
Ia juga menegaskan, pemerintah akan menindak tegas pihak-pihak yang terbukti melakukan kecurangan karena dinilai merugikan masyarakat luas.
“Ini bukan sekadar untung, ini menipu rakyat. Kita tidak akan biarkan,” ucapnya.
Di sisi lain, Amran menyampaikan bahwa pemerintah tengah mendorong terwujudnya Indonesia sebagai kekuatan besar di sektor pangan. Konsep tersebut mencakup berbagai komoditas strategis, tidak hanya beras.
“Superpower pangan itu bukan hanya beras. Kita bicara seluruh komoditas strategis, termasuk protein dan komoditas pendukung lainnya,” jelasnya.
Ia menambahkan, indikator utama menuju target tersebut adalah kemampuan memenuhi kebutuhan dalam negeri tanpa bergantung pada impor serta meningkatkan daya saing ekspor pangan.
“Kalau kita sudah tidak bergantung impor untuk komoditas utama dan bisa ekspor, itu salah satu indikatornya,” pungkasnya.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
