Menurut Christo, momentum Ramadan dimanfaatkan sebagai sarana bagi warga binaan untuk melakukan introspeksi diri dan mendekatkan diri kepada Tuhan.
“Kami berharap di bulan Ramadan ini warga binaan bisa kembali hijrah kepada Allah SWT, sehingga mereka benar-benar bertaubat dan tidak melakukan kejahatan lagi ketika kembali ke masyarakat,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa pembinaan keagamaan di Lapas Karawang tidak hanya diperuntukkan bagi warga binaan muslim. Warga binaan nonmuslim juga tetap mendapatkan pembinaan sesuai dengan agama masing-masing.
Warga binaan yang beragama Buddha melaksanakan kegiatan keagamaan di wihara yang berada di dalam lapas, sementara warga binaan beragama Kristen menjalankan ibadah di gereja lapas.
“Untuk yang nonmuslim ada penyesuaian setiap hari. Yang beragama Buddha ada kegiatan di wihara, dan yang beragama Kristen juga ada kegiatan di gerejanya,” jelas Christo.
Melalui berbagai kegiatan keagamaan tersebut, pihak lapas berharap seluruh warga binaan dapat menjalani masa pembinaan dengan lebih baik serta memiliki bekal moral dan spiritual ketika kembali ke tengah masyarakat.
Editor : Frizky Wibisono
Artikel Terkait
