Tips Penting Jaga Kesehatan Reproduksi untuk Cegah Kanker Serviks, Simak Selengkapnya!

Nurul Rahma Amalia
Koordinator Program Studi D3 Kebidanan Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), Lilis Suryani, SST., MKM. Foto : iNewskarawang.id/Nurul Rahma Amalia

KARAWANG, iNEWSKarawang.id Kanker serviks masih menjadi ancaman serius bagi perempuan di Indonesia. Tingginya angka kasus penyakit ini salah satunya dipengaruhi oleh rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini dan pemeriksaan kesehatan reproduksi secara rutin.

Koordinator Program Studi D3 Kebidanan Universitas Singaperbangsa Karawang (Unsika), Lilis Suryani, SST., MKM, mengatakan kanker serviks merupakan penyakit yang dapat dicegah dan dikendalikan apabila terdeteksi sejak dini.

“Kanker serviks pada tahap awal sering kali tidak bergejala, sehingga skrining rutin menjadi sangat penting untuk mencegah kondisi yang lebih berat,” ujar Lilis.

Ia menjelaskan, skrining kanker serviks dapat dilakukan melalui IVA test, pap smear, maupun tes HPV DNA yang dianjurkan setiap lima tahun sekali bagi perempuan yang sudah menikah atau aktif secara seksual.

Selain pemeriksaan rutin, upaya pencegahan juga dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan organ kewanitaan, menerapkan perilaku seksual yang aman, menghindari rokok, serta menjaga pola hidup sehat melalui gizi seimbang dan olahraga teratur.

Menurut Lilis, peran menjaga kesehatan reproduksi tidak hanya menjadi tanggung jawab perempuan, tetapi juga laki-laki. Penerapan pola hidup sehat dinilai penting untuk menjaga vitalitas dan kesehatan area reproduksi.

“Laki-laki perlu menjaga berat badan ideal, menghindari rokok dan alkohol, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mulai mengalami penurunan stamina,” katanya.

Ia menambahkan, perempuan juga perlu waspada terhadap gejala awal kanker serviks, seperti keputihan tidak normal, perdarahan di luar masa haid atau setelah berhubungan intim, serta nyeri panggul. Jika gejala tersebut muncul, pemeriksaan ke fasilitas kesehatan harus segera dilakukan.

Lilis menyebutkan, kanker serviks paling banyak terjadi pada perempuan yang jarang melakukan skrining. Infeksi HPV umumnya terjadi pada usia 20–30 tahun, berkembang menjadi pra-kanker pada usia 30–40 tahun, dan kanker serviks paling sering terdiagnosis pada usia 40–50 tahun.

“Karena prosesnya berlangsung perlahan dan sering tanpa gejala, deteksi dini sejak usia 25 tahun menjadi langkah penting untuk menekan angka kejadian kanker serviks,” pungkasnya.

Melalui kegiatan ini, Prodi D3 Kebidanan Unsika berharap kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini kanker serviks dan kesehatan reproduksi terus meningkat.

Editor : Frizky Wibisono

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network