Seabad Bendungan Walahar, Dari Infrastruktur Kolonial Menjadi Cagar Budaya

Gelar Maulana Media
Seabad Bendungan Walahar, Dari Infrastruktur Kolonial Menjadi Cagar Budaya. Foto : Istimewa

Bagian bawah dengan empat pintu air besar, ditambah satu pintu di sisi selatan yang dulu digunakan perahu pengangkut kayu.

Bagian atas berupa ruang mesin dari kayu jati, yang hingga kini masih menyimpan peralatan bendung buatan Cekoslowakia, nyaris tanpa perbaikan sejak dipasang seabad lalu.

Arsitekturnya menampilkan perpaduan fungsi dan estetika. Atap limasan dari kayu jati, genteng keser, lengkung-lengkung struktural, hingga ornamen geometris pada dinding menunjukkan detail rancangan khas awal abad ke-20. 

Lantainya dilapisi batu andesit, sementara pintu besinya memiliki pola belah ketupat yang kini menjadi bagian dari identitas visual bangunan.

Sejak pertama kali dioperasikan, Bendungan Walahar menjadi tulang punggung irigasi Karawang. Air yang dialirkannya menghidupi ribuan hektare sawah dan menopang produksi pangan wilayah ini. Selain irigasi, bendungan juga berperan dalam penyediaan air bersih, kebutuhan industri, perikanan, hingga pariwisata.

Letaknya yang strategis, berbatasan dengan Desa Anggadita di utara, Kutapohaci di selatan, serta menghadap aliran Citarum di timur dan barat, membuat kawasan ini mudah diakses dan terus hidup sebagai ruang publik.

Atas nilai sejarah, teknologi, dan budaya itulah, Bendungan Walahar ditetapkan sebagai Cagar Budaya berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan Nasional Nomor PM.58/PW.007/MKP/2010 pada 22 Juni 2010.

Editor : Frizky Wibisono

Halaman Selanjutnya
Halaman : 1 2 3

Bagikan Artikel Ini
Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.
News Update
Kanal
Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik Lebih Lanjut
MNC Portal
Live TV
MNC Network