Kenaikan Harga BBM, Mobil Diesel Bekas Masih Punya Pasar
JAKARTA, iNEWSKarawang.id - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis diesel tak serta-merta menyurutkan minat konsumen terhadap mobil diesel bekas. Karakter mesin yang dikenal memiliki tenaga dan torsi besar membuat kendaraan jenis ini tetap menjadi pilihan bagi sebagian pembeli.
Wakil Ketua Ikatan Pedagang Mobil Jakarta (IPMJ) sekaligus pemilik Garasi 91, Ferdian Kusuma Putra, mengatakan mobil diesel bekas masih memiliki segmen konsumen tersendiri. Menurut dia, keputusan pembelian tidak hanya ditentukan oleh harga BBM, tetapi juga kebutuhan dan kebiasaan berkendara.
“Mobil diesel bekas masih punya pasar tersendiri. Ada konsumen yang memang sudah cocok dengan karakter mesin diesel, baik dari sisi tenaga, torsi, maupun penggunaannya untuk kebutuhan tertentu,” kata Ferdian dalam keterangan resminya, Minggu (25/10/2026).
Ia menambahkan, kenaikan harga BBM tetap menjadi pertimbangan konsumen dalam menghitung biaya kepemilikan kendaraan. Namun, faktor tersebut bukan satu-satunya penentu keputusan pembelian.
“Jadi, kenaikan harga BBM menjadi pertimbangan, tetapi bukan satu-satunya faktor dalam keputusan pembelian,” ujarnya.
Karakter mesin diesel dengan torsi besar menjadi salah satu daya tarik bagi konsumen, terutama untuk perjalanan jarak jauh, aktivitas usaha, maupun kebutuhan berkendara di berbagai kondisi jalan.
Meski demikian, calon pembeli perlu memperhitungkan biaya operasional secara menyeluruh. Selain konsumsi BBM, aspek lain yang perlu diperhatikan meliputi biaya perawatan, pajak kendaraan, kondisi mesin, serta riwayat servis.
Pengalaman Kaelani menjadi salah satu gambaran konsumen yang tetap memilih mobil diesel karena sudah terbiasa dengan karakter mesinnya.
“Saya memang suka mobil diesel. Tarikannya terasa cocok untuk kebutuhan saya, dan saya sudah terbiasa menggunakannya. Harga BBM tentu tetap saya perhitungkan, tetapi selama mobilnya sesuai kebutuhan dan biaya pemakaiannya masih masuk anggaran, saya tetap memilih diesel,” kata Kaelani.
Kebiasaan menggunakan kendaraan dan kecocokan dengan karakter mesin menjadi faktor yang turut memengaruhi pilihan konsumen. Kendati demikian, keputusan membeli mobil diesel bekas tetap bergantung pada kebutuhan perjalanan, intensitas penggunaan, dan kemampuan finansial masing-masing pembeli.
Ferdian menilai konsumen mobil bekas kini semakin cermat dalam menentukan pilihan. Kondisi kendaraan, riwayat perawatan, harga pembelian, hingga perkiraan biaya operasional menjadi aspek penting yang dipertimbangkan sebelum transaksi.
“Pedagang perlu memahami kebutuhan konsumen dan menawarkan kendaraan sesuai dengan karakter penggunaannya. Mobil diesel maupun bensin masing-masing memiliki kelebihan dan pertimbangan biaya. Konsumen sekarang semakin cermat, sehingga kondisi unit, riwayat perawatan, harga kendaraan, dan biaya pemakaian perlu dijelaskan secara transparan,” tuturnya.
Menurut Ferdian, kenaikan harga BBM dapat memengaruhi cara konsumen menghitung biaya kepemilikan kendaraan. Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menghilangkan pasar mobil diesel bekas selama kendaraan itu masih sesuai dengan kebutuhan penggunanya.
“Pasar mobil bekas selalu bergerak mengikuti kebutuhan dan pertimbangan konsumen. Kenaikan BBM bisa mengubah cara orang menghitung biaya kepemilikan, tetapi tidak otomatis menghapus minat terhadap mobil diesel. Selama ada kebutuhan dan konsumen yang menyukai karakter kendaraan ini, segmennya akan tetap memiliki tempat di pasar,” katanya.
Bagi calon pembeli, harga kendaraan sebaiknya tidak menjadi satu-satunya pertimbangan. Pemeriksaan kondisi mesin, penelusuran riwayat servis, serta perhitungan biaya operasional berdasarkan penggunaan sehari-hari dapat membantu menentukan apakah mobil diesel bekas masih menjadi pilihan yang sesuai.
Editor: Frizky Wibisono