Wilayah Utara Jabar Diprediksi Minim Hujan, Karawang Diminta Waspada Kekeringan
KARAWANG, iNEWSKarawang.id – Ancaman kekeringan masih membayangi Kabupaten Karawang meski curah hujan di Jawa Barat diprediksi meningkat pada November 2026. Wilayah utara Jawa Barat diperkirakan masih berpotensi mengalami curah hujan rendah.
Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Karawang, Ari Maulana, mengatakan peningkatan curah hujan belum tentu langsung memulihkan ketersediaan air di daerah yang mengalami kekeringan berkepanjangan.
“Peningkatan curah hujan pada November belum tentu langsung mengatasi kekurangan air di wilayah yang mengalami hari tanpa hujan berkepanjangan. Karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan,” kata Ari, Kamis (22/10/2026).
Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), curah hujan di sebagian besar wilayah Jawa Barat pada September 2026 diperkirakan berkisar 0–50 milimeter per bulan dengan sifat hujan di bawah normal.
Memasuki Oktober, curah hujan diprediksi mulai meningkat, meski masih didominasi kategori rendah. Sementara pada November, sebagian besar wilayah Jawa Barat berpotensi mengalami curah hujan kategori menengah, yakni 100–300 milimeter per bulan.
Namun, wilayah utara Jawa Barat masih diprakirakan mengalami curah hujan rendah sehingga risiko kekurangan air perlu diantisipasi.
Menurut Ari, BPBD Karawang mendorong peningkatan kesiapsiagaan, terutama di daerah rawan kekeringan. Pemantauan ketersediaan air baku serta optimalisasi pemanfaatan waduk, embung, situ, dan sumber air lainnya diperlukan untuk menjaga pasokan air bagi masyarakat.
“Jangan sampai kita lengah hanya karena ada prediksi peningkatan hujan. Ketersediaan air di lapangan tetap harus dipantau agar kebutuhan masyarakat bisa terpenuhi,” ujarnya.
Selain kebutuhan air bersih, sektor pertanian juga perlu mengantisipasi perubahan cuaca. Petani diimbau menyesuaikan pola dan jadwal tanam dengan mempertimbangkan ketersediaan air serta informasi prakiraan iklim.
BPBD juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan selama kondisi kering. Pemantauan kawasan rawan serta kesiapan sarana dan prasarana penanggulangan kebakaran perlu diperkuat.
Ari menambahkan, koordinasi antarperangkat daerah dan pemerintah kabupaten/kota diperlukan untuk memantau perkembangan iklim, menyusun langkah penanganan, serta menyosialisasikan penghematan air kepada masyarakat.
“Kami mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah rutin memantau prakiraan iklim serta peringatan dini BMKG. Informasi tersebut penting sebagai dasar menentukan langkah antisipasi selama musim kemarau,” tuturnya.
Dengan prediksi hujan yang meningkat pada November, BPBD Karawang tetap meminta masyarakat waspada terhadap potensi kekeringan, terutama terkait ketersediaan air bersih, kebutuhan pertanian, dan kondisi lingkungan.
Editor: Frizky Wibisono