get app
inews
Aa Text
Read Next : Deteksi Dini Stunting, Puskesmas Karawang Skrining 25 Balita Berisiko

Tuntaskan Pendampingan 598 Keluarga, Kemitraan Pemerintah dan Swasta Dorong Perbaikan Gizi Anak

Jum'at, 06 Maret 2026 | 12:48 WIB
header img
Tuntaskan Pendampingan 598 Keluarga, Kemitraan Pemerintah dan Swasta Dorong Perbaikan Gizi Anak. Foto : Istimewa

JAKARTA, iNEWSKarawang.id – PT Nestlé Indonesia menutup rangkaian Program Pendampingan Gizi 2025 yang dilaksanakan bersama berbagai mitra lintas sektor untuk mendukung upaya pencegahan stunting di Indonesia.

Program yang berlangsung selama enam bulan, sejak Juli 2025 hingga Januari 2026 itu melibatkan Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN), TP PKK Kabupaten Batang, akademisi dari IPB University, serta Edu Farmers sebagai mitra field officer.

Program tersebut menjangkau 598 keluarga dengan anak berisiko stunting, melibatkan 147 kader pendamping, serta memberikan edukasi kepada 520 ibu hamil dan menyusui di wilayah Karawang, Batang, dan Pasuruan.

Berdasarkan hasil pemantauan bersama mitra akademisi, program ini menunjukkan penurunan prevalensi underweight (berat badan kurang) dan severe underweight (berat badan sangat kurang) sebesar 22,5 persen, disertai perbaikan indikator pertumbuhan anak serta meningkatnya pemahaman keluarga mengenai pemenuhan energi dan gizi harian.

Plt Direktur Bina Peran Serta Masyarakat Kemendukbangga/BKKBN, Dr Yuni Hastutiningsih, mengatakan kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam memperkuat upaya pencegahan stunting di Indonesia.

“Kolaborasi antara pemerintah dan sektor swasta, seperti yang dilakukan oleh PT Nestlé Indonesia, memiliki nilai strategis dalam memperluas jangkauan intervensi, mempercepat perubahan perilaku, serta memastikan keberlanjutan program,” ujar Dr Yuni, Jumat (6/3/2026).

Ia menegaskan sinergi berbagai pihak perlu terus diperkuat agar setiap program yang dijalankan mampu memberikan dampak nyata bagi keluarga Indonesia.

Selain meningkatkan indikator pertumbuhan anak, program ini juga berfokus pada peningkatan kapasitas keluarga dan kader dalam menerapkan praktik pemenuhan energi anak, variasi konsumsi makanan, serta pemantauan tumbuh kembang secara rutin.

Marketing Manager PT Nestlé Indonesia, Ankur Mittal, menegaskan keberhasilan program tidak hanya diukur dari capaian angka, tetapi juga dari perubahan perilaku yang berkelanjutan di tingkat keluarga.

“Kami percaya tantangan gizi anak tidak dapat diselesaikan melalui upaya jangka pendek. Program ini dirancang dengan prinsip intervensi berbasis bukti, monitoring rutin, dan kemitraan lintas sektor,” katanya.

Menurut dia, dampak program terlihat dari perbaikan indikator pertumbuhan anak sekaligus perubahan praktik gizi keluarga di tingkat rumah tangga.

Program Pendampingan Gizi 2025 sendiri berfokus pada deteksi dini anak dengan berat badan stagnan atau sulit naik. Intervensi dilakukan dengan memberikan satu butir telur dan satu gelas susu setiap hari selama enam bulan, disertai edukasi keluarga serta pemantauan rutin pertumbuhan anak.

Guru Besar Pangan dan Gizi IPB University, Prof Ali Khomsan, menjelaskan pendekatan sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat memberikan dampak signifikan terhadap perbaikan status gizi anak.

“Hasil pemantauan menunjukkan peningkatan indikator berat dan tinggi badan anak serta penurunan prevalensi underweight sebesar 22,5 persen. Ini menunjukkan intervensi berbasis protein hewani yang dipadukan dengan pemenuhan energi harian dan edukasi keluarga dapat memberikan dampak nyata,” jelasnya.

Sementara itu, Market Nutritionist Lead PT Nestlé Indonesia, Jennifer Handaja, mengatakan program ini juga membantu keluarga memahami cara memenuhi kebutuhan energi serta zat gizi mikro penting seperti zat besi dan kalsium.

“Temuan baseline menunjukkan adanya kesenjangan pada pemenuhan energi dan zat gizi mikro penting seperti zat besi dan kalsium. Karena itu, intervensi difokuskan pada solusi yang realistis dan mudah diterapkan sehari-hari. Melalui edukasi, pendampingan kader, dan monitoring rutin, keluarga menjadi lebih percaya diri dalam memenuhi kebutuhan gizi anak serta menerapkan praktik makan yang lebih baik di rumah," terangnya.

Di sisi lain, Ketua TP PKK Kabupaten Batang, Faelasufa, menilai pendekatan pendampingan dan edukasi di tingkat desa menjadi kunci keberhasilan program.

“Yang saya suka dari program pendampingan gizi Nestlé adalah mereka tidak hanya memberikan makanan, tetapi juga mengajarkan ibu-ibu di desa bahwa makanan bergizi tidak harus mahal,” katanya.

Dampak program juga dirasakan langsung oleh keluarga penerima manfaat. Salah satu orang tua penerima manfaat di Pasuruan, Himmatul Ulya, mengaku pendampingan kader membantu keluarganya memahami pentingnya pemantauan tumbuh kembang anak.

“Anak kami yang sebelumnya berat badannya sulit naik mulai menunjukkan perbaikan, lebih aktif, dan nafsu makannya meningkat setelah mengikuti program ini,” tuturnya.

Program ini dirancang tidak hanya sebagai intervensi jangka pendek, tetapi juga sebagai model pendekatan berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas keluarga, kader, dan komunitas dalam menjaga praktik gizi yang baik di tingkat rumah tangga.

Melalui program ini, Nestlé Indonesia juga menegaskan komitmennya mendukung agenda pemerintah dalam penurunan dan pencegahan stunting, sejalan dengan target global perusahaan untuk membantu 50 juta anak hidup lebih sehat pada 2030.

Editor : Frizky Wibisono

Follow Whatsapp Channel iNews untuk update berita terbaru setiap hari! Follow
Lihat Berita Lainnya
iNews.id
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut