Begini Cerita Purbaya Disindir Prabowo saat Retret di Hambalang, sampai Deg-degan
JAKARTA, iNewsKarawang.id - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa. mengaku deg-degan disindir Presiden Prabowo Subianto saat retret Kabinet Merah Putih di Hambalang, Jawa Barat, pada Rabu (7/1/2026).
Purbaya menceritakan sindiran itu terkait kebocoran dan potensi manipulasi dalam sistem penerimaan negara. Pesan itu disampaikan secara implisit oleh Prabowo dalam pertemuan di Hambalang.
"Saya disindir lagi dalam pertemuan kemarin dengan presiden di Hambalang. Dia bilang, 'Apakah kita akan mau dikibulin terus oleh pajak dan bea cukai?' Itu pesan ke saya dari presiden, walaupun dia enggak melihat ke saya, tapi deg kan ke sini," ujar Purbaya usai konferensi pers APBN KiTa di Kemenkeu, Jakarta, Kamis (8/1/2026).
Purbaya membeberkan adanya praktik under-invoicing atau pelaporan nilai transaksi di bawah harga sebenarnya yang dilakukan secara masif oleh perusahaan kakap di sektor kelapa sawit.
"Kita deteksi ada beberapa perusahaan sawit melakukan under-invoicing export separuh dari nilai ekspornya. Saya kan baru dapat 10 perusahaan besar, itu dapat sekitar 50 persen kira-kira kalau dipukul rata yang total ekspor mereka yang diakui enggak separuhnya," kata Purbaya.
Selain sektor sawit, Purbaya menyoroti maraknya industri liar di sektor baja dan bahan bangunan yang dikelola oleh pihak asing tanpa mematuhi aturan perpajakan Indonesia. Perusahaan-perusahaan itu beroperasi dengan tenaga kerja asing dan melakukan transaksi berbasis tunai (cash based) untuk menghindari Pajak Pertambahan Nilai (PPN).
"Pengusahanya dari China, punya perusahaan di sini, orang China semua, enggak bisa bahasa Indonesia. Jual langsung ke klien cash based, enggak bayar PPN, saya rugi banyak itu. Nanti kita tindak dengan cepat," tutur dia.
Purbaya mengaku heran mengapa perusahaan asing yang cukup familiar itu bisa beroperasi bebas tanpa terdeteksi oleh aparat pajak dan bea cukai selama ini.
"Kalau saya tahu, mereka pasti lebih tahu dari saya," ujar dia.
Menanggapi sindiran Prabowo, Purbaya mengultimatum jajaran Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Kemenkeu. Dia memberikan waktu satu tahun bagi Bea dan Cukai untuk berbenah secara total.
"Kalau Bea Cukai ancamannya clear dari sana. Kalau enggak bisa betulin setahun ya betul-betul dirumahkan. Jadi saya akan selamatkan, supaya 16.000 orang itu tetap bekerja, tapi yang bagus yang kerjanya. Yang jelek-jelek kita akan rumahkan. Saya akan kotakin betul," ucap Purbaya.
Namun untuk menutup celah kebocoran tersebut, kata dia, Kemenkeu akan mengandalkan analisis data canggih dari Lembaga Nasional Single Window (LNSW) serta mengintegrasikan teknologi Artificial Intelligence (AI). Penggunaan teknologi itu diharapkan mampu mendeteksi profil risiko per kapal secara realtime, sehingga praktik manipulasi nilai ekspor tidak bisa lagi dilakukan.
Purbaya mengirimkan peringatan keras kepada para pengusaha nakal. Dia menegaskan pemerintah tidak akan lagi melakukan pendekatan persuasif jika pelanggaran terus berlanjut.
"Mungkin saya enggak tahu level pendekatannya seperti apa. Tapi yang jelas, kita akan kasih message ke mereka ke depan enggak bisa begitu lagi. Kalau begitu lagi, kita sikat perusahaannya," tutur Purbaya.
Editor : Boby